Ingin selalu tersenyum

Allah…., aku ingin selalu tetap tersenyum…., walau ada pahit di dalamnya…, berusaha tegar walau badai datang mendera. Karena hidup tak selalu berjalan sesuai dengan harapan kita. Banyak sekali kenyataan pahit yang harus kita hadapi. Tapi lihatlah…, aku masih bisa tersenyum.

Entah kenapa, malam ini aku hanya ingin bercerita.., aku ingin menangis…., aku ingin tumpahkan semuanya. Biar pahit itu mengalir bersama air mata yang keluar. Biar tinggal senyuman yang selalu menghiasi hari-hariku. Aku bukannya mengeluh…, tapi hanya ingin bercerita, betapa aku ingin selalu tersenyum. Tapi kadang cuma tertahan di kata.

Aku hanya ingin sendiri saja saat ini . Ingin melihat bintang terang yang berpijar. Biar aku selalu tersenyum. Aku ingin sekali melihat lebih dekat. Sangat dekat, hingga aku bisa menyentuhnya. Biar sinarnya bisa terangi senyumku.

Allah…, kupasrahkan semua padaMu…, semuanya…., tapi biarkanlah aku tetap tersenyum hingga saat itu tiba. Aku ingin melihat semua juga ikut tersenyum…. :)

Permen Karet

Kebiasaan burukku selain mudah tertidur, aku suka sekali mengunyah permen karet.  Kebiasaan ini sudah aku mulai sejak aku kecil, entah mengapa bisa kebawa sampai saat ini. Terkadang Tanpa aku sadari ada noda permen karet di baju aku. Ini udah sering sekali, jadi baju terlihat kotor. Lengket gitu. Jadi kasihan yang nyuci.

Permen karet yang lekat dibaju sangat sulit dihilangkan. Meskipun kita telah mencucinya berkali-kali. Bahkan kalau kita paksakan dalam proses pembersihannya, bisa-bisa baju kita tambah kotor. Tapi anda jangan khawatir. Ada resep untuk menghilangkan noda permen karet :

Continue reading

Merenung

Aku tak tau harus mulai dari mana, akhir-akhir ini aku sering termenung. Aku merasa sangat bersyukur karena masih bisa menyapa kalian semua di sini. Memang hidup itu sebuah pertukaran yang adil ya…, kita sebagai manusia cuma bisa menjalaninya. Saat hati ini merasa suntuk aku biasa merenung. Merenung dalam artian bukan melamun lho…, biasanya merenung sambil berdoa disepertiga malam. Pernahkah kalian merasa tubuh kalian ada tapi jiwa kalian melayang entah kemana? Dan aku merasakan itu semua. Memang sungguh aneh, aku seperti gila, tapi aku masih ingat semuanya.

Kawan…, apa aku ini ada? benarkah aku nyata? Aku bisa menangis, aku juga bisa tertawa. Kadang air mata bisa mengalihkan duka. Tapi terkadang merenung bisa membuahkan air mata. Jika aku renungkan , ternyata selama ini aku merasa banyak berbuat salah. Aku sungguh takut pada neraka, jika waktunya tiba, aku ingin sekali Allah memasukkan aku ke dalam surga-Nya. Kita sudah tau kalau siksa neraka itu sangat pedih, tapi kenapa ya orang selalu saja mendekatinya.

Wah…., aku terlalu jauh merenung kali ini, tapi tak ada salahnya kita merenungi diri, siapa tau kita bisa memperbaiki diri. Hidup itu cuma sekali, maka dari itu kita harus bisa berbuat banyak amal kebaikan, kita akan menyesal nanti jika waktu itu datang pada kita. Ah…, kenapa aku sudah seperti daun-daun kering itu. Aku merasa segera jatuh tertiup angin. Atau malah akan diterbangkan angin? Aku merasa seperti buah mangga yang belum masak, tapi sudah banyak ulatnya, sehingga tak bisa lagi bertahan dalam dahan, tinggal menunggu jatuh saja. Tapi bukankah harapan itu selalu ada…, dan kita tak perlu berhenti berharap.

Saat Ku Tak Mampu…

Semalaman aku memikirkan ini, ada yang berkecamuk dalam hatiku, gelisah dan merasa amat bersalah. Perasaan ini sungguh amat menyiksa. Aku tidak bisa membantu seorang yang aku sayangi yang sedang mengalami kesulitan. Aku bayangkan betapa Ia sangat kebingungan setengah mati atas masalah yang menimpanya. Sementara aku diam saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Sungguh aku sangat keterlaluan!!!

Tapi bagaimanapun juga aku sudah berusaha, mungkin ini juga kesalahanku saat mengajukan sesuatu tidak berkata jujur pada mama. Tapi bagaimana caranya bilang coba? Kini kesedihan luar biasa membebani diriku, beginilah rasanya kalau kita melihat kesedihan orang lain. Aku lebih bahagia kalau melihat orang lain merasa bahagia. Aku tak ingin orang yang berada disekitarku merasakan kesedihan. Lebih parahnya lagi aku mengetahui dan aku tak mampu membantunya. Rasanya hati ini seperti tersayat-sayat samurai dan terasa sangat perih.

Kapan waktunya akan tiba, dimana aku bisa mencapai angka dua puluh. Angka dimana aku bisa menentukan dan mengatur kehidupan diriku sendiri tanpa ada yang bayang-bayang. Tapi aku harus menunggu tiga tahun lagi untuk mencapai angka dua puluh itu. Rasanya lama sekali. Bisakah aku mencapai angka itu? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Flu Babi

Belum lama kita dihebohkan oleh ancaman flu burung (avian influenza), kini datang ancaman penyakit serupa datang lagi yaitu flu babi yang merebak di dunia dan telah banyak menelan korban jiwa di sejumlah negara seperti Meksiko, Texas, California Selatan, Amerika Serikat, Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya. Ada kemungkinan juga bisa menyebar ke Indonesia.

Flu babi merupakan penyakit saluran pernafasan akut yang sangat menular. Babi merupakan induk dari virus ini, tetapi virus ini juga bisa menular pada manusia dan bangsa burung maupun sebaliknya. Badan Dunia WHO telah meningkatkan dari kewaspadaan level III menjadi IV. Jadi kita harus bisa hati-hati untuk hal ini.

Continue reading

First Love

selalu memikirkannya……
selalu merindukannya……
selalu ingin dekat denganya……
apakah itu jatuh cinta?

entahlah…..
“itukah yang kau rasa?”
my fisrt love..
ssssstt………, jangan bilang mom…

Continue reading

Belajar Memaafkan

Semua orang pasti pernah berbuat kesalahan. Tak  ada seorangpun di dunia ini yang tak pernah berbuat salah.  Tapi jika kesalahan itu terus menerus dilakukan kadang-kadang jadi susah juga untuk memaafkan. Kata maaf  itu jadi begitu mahal harganya. Dan akan sulit sekali terucap. Apalagi jika orang yang meminta maaf itu terlalu besar kesalahannya pada kita, mengucap empat huruf saja bisa sangat susah sekali. Mulut jadi serasa tak bersuara, dan terasa berat.

Tapi betapapun besar kesalahan orang tersebut pada kita, betapa kita amat membencinya kita harus memaafkannya. Tuhan saja maha memaafkan atas dosa kita yang begitu besarnya dan tak bisa terhitung lagi jumlahnya. Sebagai manusia kita juga harus bisa memaafkan meskipun itu sangat sulit sekali. Mulai dari sekarang belajarlah memaafkan. Jika yang berbuat salah adalah teman kita maka ingatlah kebaikannya pada kita, jangan ingat kesalahan yang dia perbuat pada kita. Dengan begitu kita lebih mudah untuk memaafkannya.

Teh

Teh merupakan tanaman semak yang tumbuh di Tibet, China bagian barat dan India bagian utara. Menurut legenda, saat memerintah China sekitar tahun 2737 sebelum Masehi, seorang raja bernama Chen-nung pernah merebus air di bawah pohon teh. Ia memetik beberapa lembar daun teh, lalu memasukkannya ke dalam air rebusan. Begitu mencicipi, Chen-nung sangat terkejut, karena mencicipi rasa dan aroma teh yang nikmat. Sejak saat itu teh sangat populer di China, mengalahkan kopi dan minuman lainnya. Kemudian tahun 709-784 tanaman teh dibawa para Pendeta Budha ke Jepang.

Bangsa Eropa mengenal teh pertama kali pada abad 17, yaitu ketika kapal-kapal dagang VOC membawa daun teh ke Belanda. Teh pun mulai menyebar ke Perancia, Rusia, Jerman dan daerah lainnya. Indonesia sendiri mengenal teh ketika diperkenalkan oleh seorang dokter Jerman, dr Andreas Clever sekitar tahun 1864.

Secara garis besar ada dua jenis teh, yaitu Camellia Sinensis Varietas Assamica yang diolah menjadi teh hitam dan Camellia Sinensis Varietas Sinensis yang merupakan bahan baku teh oolong dan teh hijau. Varietas teh ini banyak ditanam di China dan Jepang karena bercitera rasa khas an dipercaya berkhasiat bagi kesehatan. Adapun citarasa dan khas seduhan teh dipengaruhi banyak faktor, antara lain jenis tanaman, sistem pemetikan dan teknik pengolahan.

Continue reading

Pindah Rumah!!!

Rasanya agak berat ninggalin rumah ini, rumah yang telah banyak memberiku sahabat, teman dan pengetahuan. Aku ucapkan banyak terima kasih pada teman-teman semua karena sudah banyak memberiku nasehat dan semangat. Itu sangat membantu aku , senang sekali bisa kenal dengan kalian semua. Semoga kalian semua masih mau menjaga tali persahabatan ini dengan mengunjungi rumahku yang baru di

http://radesya.com

Cerpen: Ada Bias Cinta Pada Bola Mata Ibu

Kepada Mama dan seluruh Ibu-ibu diseluruh nusantara atau siapa saja yang menjadi seorang Ibu, aku ucapkan,

SELAMAT HARI IBU

Dan ini adalah persembahan dariku buat para Ibu. Mungkin cerpen ini jauh sekali dari kata bagus, karena aku masih dalam proses belajar

Semua ini adalah fiksi, jika ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulan belaka. Semoga saja ada hikmah yang bisa diambil dari sini. Mohon maaf jika kurang bagus.

Aku adalah anak malang yang tak pernah diinginkan ibu. Ibu selalu membenciku disaat ibu ibu yang lain sangat menyayangi dan mencintai anaknya. Bahkan perseteruanku dengan ibu sudah dimulai sejak aku masih dalam gerha ibu. Bagaimana ibu tega ingin menghabisi nyawaku. Dengan segala macam cara ibu pernah lakukan untuk membunuhku. Mulai dari ramuan-ramuan tradisional hingga obat-obatan berbahaya pernah ibu masukkan ke dalam perutnya. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku begitu kuat bercokol dalam perutnya. Apa salahku? Sehingga ibu begitu benci padaku. Bukankah dia yang salah, kenapa mau melakukan perbuatan yang membuat aku ada dalam perutnya.

Racun demi racun ditumpahkan padaku, membuat nafasku hampir saja berhenti, tapi malaikat-malaikat itu menjagaku dengan baik, sehingga aku masih bisa bertahan dalam perutnya. Racun-racun itu telah membuatku merasa panas jika mengenai jantungku, membuat aku merasa pedih jika mengenai mataku, hampir saja tubuhku meleleh tak berbentuk lagi, hingga aku memberontak dari perut ibu karena aku sudah tidak tahan lagi dengan siksaannya, akupun keluar dari perut ibu dengan tangisanku yang sangat keras, mukaku aneh, hidungku ringsek, kakiku kecil sebelah. Ibu tak memberi nama padaku, hanya seorang nenek tua yang memberiku nama Kuat, mungkin dia berharap aku jadi laki-laki yang kuat. Dengan diriku yang tak sempurna membuat ibu semakin marah. Ibu membesarkan aku dengan kebencian dan amarah yang meledak-ledak bagai nyalak petir yang tak kunjung reda. Tak ada kasih sayang sedikitpun untuk aku.

***

Hari-hariku kulalui tanpa kasih sayang dari ibu, aku kesepian dan kedinginan tanpa seorang teman, semua orang jijik melihatku. Kala gelap turun lebih cepat dan matahari tampak letih dan hendak beradu di ufuk barat, angin yang lembut menerpa dedaunan, terkadang mereka bergumul dan mengempas dedaunan pada pohon-pohon hingga segala yang terlewati menjadi kebas. Dan aku sering berlari ke belakang rumah, aku berbicara sama apapun yang aku temui di sana, sama pohon-pohon sama bintang-bintang di langit, karena cuma mereka yang setia menemani aku. Ingin rasanya aku terbang ke langit temui bintang-bintang itu, tapi itu hanya mimpi saja karena aku tidak memiliki sayap.

Malam itu ibu pulang sangat larut, aku mengendap-endap mengintip ibu, kulihat ada memar di pipi ibu. Ingin sekali aku mengobati luka ibu, atau sekedar membawakan air hangat untuknya, entah apa yang dilakukan ibu diluar sana. Aku coba berjalan dekati ibu. Tapi baru saja aku ingin mengobati luka ibu, dia sudah berteriak

“jangan sentuh aku! Anak sialan! Hardik ibu padaku.

“ini semua gara-gara kamu! Amarah ibu semakin jadi, kemudian ibu tampar pipiku, plak!

Sangat keras sekali. Rasanya sangat panas, tapi tak sedikitpun air mata keluar basahi pipiku. Mungkin air mataku sudah kering bagai musim kemarau dibulan juli. Atau air mataku sudah hilang sejak aku merintih dalam perutnya saat dia ingin menghabisi nyawaku.

Tahukan engkau ibu, kalau aku sangat merindukan ibu. Saat kulihat induk kucing yang sedang menyusui anak-anaknya, aku semakin iri sama mereka, betapa sayangnya induk kucing itu pada anak-anaknya.

“kau sangat beruntung sekali, ibumu begitu sayang padamu”ucapku suatu hari pada seekor anak kucing itu.

“Kalau aku jadi kamu, sudah aku habisi perempuan itu” sahut anak kucing

“Tapi dia ibuku” kataku

“Perempuan itu telah jahat padamu, bahkan sejak kamu masih dalam perutnya”

“Tidak! aku tak akan bunuh ibuku, aku rela lakukan apa saja agar dia bisa mencintai aku”

“tapi sampai kapan kamu akan bisa bertahan”

“entahlah” jawabku

Ibu, betapa aku rindu tangan ibu di atas dahiku,kemudian tangan ibu bergerak pelan-pelan mengelusku sampai aku tertidur seperti anak kucing itu. Rinduku sudah merasuk ke dalam sukmaku, menerobos aliran darahku, hingga membuatku sulit bernafas. Setiap hari aku tahan rinduku ini untuk ibu. Tapi tak sedikitpun ibu merasakannya. Ingin aku menangis dan mengadu padamu saat anak-anak itu mengejek aku, ingin rasanya aku menampar mereka seperti yang ibu sering lakukan padaku disaat ibu marah. Tapi aku tak pernah melakukannya. Ibu memperlakukanku seperti binatang yang terbuang.

Malam itu seperti biasa ibu pergi, aku penasaran dengan semua yang ibu lakukan diluar sana, ingin sekali aku mencegah ibu pergi, tapi tentu saja ibu tak kan pernah hiraukan ucapanku. Aku begitu gelisah menunggu ibu pulang, hingga ada seorang yang mengantar ibu. Rupanya ibu baru mendapat musibah. Tubuh ibu lunglai bagai tak bertulang. Kini tubuh ibu tak bisa bergerak, ibu lumpuh. Apa ini sebuah hukuman dari Tuhan untuk ibu? Atau hanya kebetulan saja? Tapi yang jelas sekarang ibu tidak bisa lagi menampar pipiku atau mencaci maki aku dengan ucapannya yang seperti badai itu. Alangkah jahatnya ibu jika aku ingat semua itu.

***

Setelah ibu lumpuh, tak banyak yang bisa ibu kerjakan selain hanya berbaring. Aku berusaha merawat ibu dengan segala kemampuanku. Tak ada dendam di hatiku ibu, aku ikhlas merawat ibu. Semua perlakuan ibu sudah aku maafkan. Kini ibu tidak bisa bekerja, aku berusaha mencari sesuap nasi demi ibu. Aku berjalan tertatih-tatih karena kakiku yang pincang ini, kususuri tiap gang untuk memungut sampah-sampah itu. Semua aku lakukan demi ibu. Aku tak pernah takut semua orang menghinaku, aku juga tidak takut semua orang mengusir aku, cuma satu yang aku takutkan yaitu ibu tak akan pernah mencintai . Aku tak bisa mendapatkan surga dari ibu.

Mungkin malam ini aku hanya bisa membeli sebungkus nasi untuk ibu saja. Dan seperti biasa aku tidak akan makan demi ibu. Saat kusuapi ibu hanya diam, masih kulihat kebencian di mata ibu, meskipun tak sepatah kata terucap dari bibir ibu. Walau akhirnya ibu mau juga menghabiskan nasi itu. Hatiku kian pilu, kenapa ibu tak bisa mencintai aku. Ibu, tahukan ibu diluar sana kala rintik-rintik air mulai turun aku seret kakiku, aku kedinginan ibu, aku juga kelaparan, dan mereka semua mengejekku. Tahukah ibu, diluar sana setiap hari yang kutuju adalah gunungan sampah, tahukah ibu diluar sana aku dipukuli orang semua demi ibu. Kuceritakan ini semua agar ibu terbuka hatinya. Aku keluarkan bungkusan yang aku siapakan untuk ibu. Aku dekati ibu, seperti biasa kulihat sorot mata ibu yang membenciku.

“Ibu, kulihat baju ibu sudah usang dan compang camping, aku ada sedikit uang, dan ini adalah tabunganku selam ini” ucapku sambil membuka bungkusan plastik warna hitam yang aku pegang. Aku pakaikan baju yang aku beli dari pasar tadi siang, meskipun cuma baju murahan . Ibu terlihat bersih saat ini. Tiba-tiba saja tanganku basah oleh sesuatu. Dan saat kulihat ibu ternyata ada buliran-buliran air mata disana. Yah, ada bias cinta pada bola mata ibu. Aku baru sekali ini melihat ibu menangis, bias cinta mata ibu begitu meneduhkan. Tak kulihat lagi kebencian di mata ibu. Aku bagaikan menemukan oase di tengah gurun yang tandus. Rinduku telah tersirami saat buliran-buliran air mata ibu mengenai tanganku. Kuusap lembut pipi ibu yang basah. Aku sayang ibu, aku rindu saat-saat seperti ini sudah lama ibu, Kemudian aku peluk ibu.

Radesya, 21 desember 2008