Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

The Adventure of Kirara (Chapter 2)

Kawans….. rasanya aku merindukan kalian semua…. rasanya sudah berabad-abad kita tak berjumpa ya…., biar bisa mengobati rasa kangenku pada kalian…. aku lanjutin fanfictna dech…. jikalau ada waktu dan berkenan, mohon bacalah ini…., kasih tau pendapat kalian ya…. makasih…. luv you all guys…. :-*

Segala persiapan telah dilakukan, semua perbekalan dan harta benda telah dimasukkan ke dalam kereta kuda. Kirara memisahkan barang-barangnya dari kakak-kakaknya, ia membawa kimono terbaiknya, kue mochi, kabumaki, ikan kering, bola-bola nasi dan tak lupa tanto pemberian komandan Shinrue, kemudian membungkusnya dalam buntalan kain dan membawanya. Mereka berangkat begitu matahari menampakkan diri. Lord Okamura Yuilo sangat berat melepas istri dan ketiga putrinya.

“Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah meminta Kichiro dengan pasukannya untuk mengawal kalian” Lord Okamura meyakinkan istri dan ketiga putrinya.
Lady Miyuki berlutut di hadapan suaminya dengan diikuti ketiga putrinya memberi hormat

“Segera jemput kami” ucap lady Miyuki menahan haru

“Aku akan segera menjemput kalian” Lord Okamura memeluk istri dan ketiga puterinya.
Kereta kuda segera melaju menuju mino hagure dengan pengawalan . Kichiro ditugasi mengawal dan menjaga keselamatan seluruh rombongan.

“menyebalkan sekali, kita harus meninggalakan Yamagara, kenapa kita tidak tinggal saja sih?” ucap megumi bersungut-sungut

“kau mau jadi daging panggang?” Hiki menimpali

“Ayah dan komandan Shinrue pasti bisa mengatasinya tau”

“Ini demi keselamatan kita bodoh!” Hiki mengeraskan suaranya

“Apa kau bilang? Aku bodoh?”

“Iya, dasar bodoh!”

“Kau yang bodoh!” bantah Megumi

“kau!”

“Kau!” balas Megumi

“Hentikan!, ayah kalian tak akan menyuruh kita menyelamatkan diri kalau dirasa tak akan membahayakan kita” Lady Miyuki menengahi.
Kirara hanya diam, dalam pikirannya hanya ada ayahnya, ia sangat menghawatirkan keselamatan Lord Okamura Yuilo, ia juga mengkhawatirkan komandan Shinrue. Ia menggenggam erat tanto yang terselip di dalam kimononya.

“Apakah ayah akan baik-baik saja ibu?” ucap Kirara lirih

“Tentu saja, percayalah” Lady Miyuki menenangkan Kirara

Kirara merebahkan kepalaya di pangkuan Lady Miyuki, sementara Hiki dan Megumi berdebat disepanjang jalan.
Setelah keluar dari Yamagara, jalanan mulai berliku dan sempit . Sepenjang jalan dipenuhi bebatuan terjal. Meskipun langit nampak biru cerah, namun hati mereka diselimuti mendung kelabu. Kereta kuda yang membawa mereka berayun-ayun tertantuk bebatuan dan terjalnya jalan.
Tiba-tiba saja kereta kuda yang mereka tumpangi terhenti, terdengar suara gaduh di luar. Lady Miyuki mengintip dari balik tirai. Terlihat banyak pengawal yang jatuh tersungkur.

“Ada apa bu? Kenapa kita berhenti?” Hiki nampak gelisah

“Sepertinya ada yang tidak beres, cepat kalian sembunyi!” ucap Lady Miyuki pada ketiga puterinya
Megumi dan Hiki segera mengintip dari balik tirai, Kirara yang penasaran mengikuti kedua kakaknya. Nampak oleh mereka para pengawal yang jatuh tersungkur bersimbah darah. Hiki dan Megumi ketakutan dan menangis.

“Cepat kalian sembunyi!” Lady Miyuki memerintah ketiga puterinya lagi.

“Ibu mau kemana?” Ucap Hiki sambil menangis ngeri

“Ibu akan keluar sebentar”
Lady Miyuki turun dari kereta kuda, baru beberapa langkah terdengar jeritan singkat dari seorang pengawal, kemudian jatuh di dekat kaki Miyuki. Darah mengalir dari belakang leher yang terkena anak panah. Kemudian disusul pengawal lainnya yang bernasib sama. Lady Miyuki menjerit ngeri.

“Masuklah ke dalam Lady Okamura” Suara Kichiro mengagetkan Miyuki.

“Ada apa ini? “

“Kita diserang musuh Lady, cepatlah kembali ke dalam kereta, hamba akan berusaha mengahalaunya” Ucap Kichiro panik
Miyuki segera bergegas meninggalkan Kichiro menuju kereta kuda ketika anak panah terbang melewati telinganya, hingga ia meloncat kaget.

“Cepat Lady! Cepat!” ucap Kichiro
Sementara itu di dalam kereta Hiki dan Megumi menangis sesenggukan, Kirara nampak gelisah karena ibunya belum juga kembali. Kirara berusaha menyembunyikan perasaan takutnya karena tidak ingin dibilang masih kecil dan cengeng.

“Aku akan menyusul ibu kak” ucap Kirara bangkit dari tempat persembunyiannya

“Jangan! Ibu meminta kita untuk terus bersembunyi” Hiki mencegah Kirara

“Di luar tidak aman!” Megumi menimpali

Tapi Kirara tidak menghiraukan kakak-kakaknya, ia meraih buntalan kain perbekalannya dan melesat turun. Kirara mengeluarkan tanto pemberian komandan Shinrue. Ia menggenggamnya dengan erat. Kirara segera mencari Lady Miyuki ibunya.

“Tunggulah di sini Megumi chan, aku akan menyusul Kirara chan”

“Tapi bagaimana dengan aku?” balas Megumi

“Tetaplah bersembunyi”

Hiki meloncat turun dari kereta kuda, nampaknya ia tidak ingin Kirara kenapa-napa, sebagai kakak tertua ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Kirara. Ia juga menyayangi Kirara.
Kirara menemukan Kichiro, tepat saat seorang laki-laki hendak mengayunkan pedang ke arah Kichiro. Dengan secepat kilat Kirara dengan tubuh mungilnya menangkis pedang itu dengan tantonya. Kirara nampak kepayahan. Kichiro yang mengetahui itu segera membantu Kirara.

“Nona kecil! Kenapa nona kemari? Ini sangat berbahaya” ucap Kichiro sambil terus mengayunkan pedangnya melawan laki-laki tadi.

“aku kan membantumu Kichiro” Kirara terus bergerak dengan lincah, hingga orang itu roboh bersimbah darah.

“Terima kasih nona, tapi nona masih kecil, oohhh…, dari mana nona dapat tanto itu? Bagaimana nona bisa bertarung layaknya kesatria?” Kichiro memberondong Kirara dengan pertanyaan karena keterjutannya.

“panjang ceritanya”

“Kembalilah ke dalam kereta nona, ini sangat berbahaya, musuh sangat banyak, aku akan berusaha melindungi kalian”

“Tidak Kichiro san, aku akan membantumu” Kirara bersikeras.

Kichiro akhirnya mengalah, membiarkan Kirara membantunya karena jumlah pengawal semakin berkurang karena gugur. Pasukan musuh yang jumlahnya sangat banyak membuat para pengawal kuwalahan. Dengan kehadiran Kirara, Kichiro merasa terbantu. Mereka berdua bergerak dengan lincah . Kirara mengayunkan tantonya dengan cepat. Ia bergerak ke kanan dan ke kiri sambil tangannya terus bergetar karena ngeri. Saat tantonya mengenai salah satu lawannya darah mengucur deras dari perut yang terkoyak, Kirara menjadi bimbang, perutnya mual ingin muntah. Ia merasa bersalah karena telah melukai orang, tanto digenggamannya ikut bergetar, tapi ia teringat perkataan komandan Shinrue, “kesatria sejati tidak takut dengan apa pun, dan kalau ingin menjadi seorang kesatria jangan tanggung-tanggung menghadapi musuh”. Ucapan komandan Shinrue itu terus ternggiang di telinganya, hingga ia kembali menemukan keberanian dalam dirinya.

Hiki yang menemukan Kirara dan Kichiro sedang bertarung menggigil ketakutan , ia menjerit karena ngeri. Saat anak panah melesat hampir mengenai lengannya. Kirara yang mengetahui itu segera berlari menghampiri kakaknya.

“Kichiroooo, selamatkan ibu, aku akan menyelamatkan Hiki chan, percayalah padaku” teriak Kirara pada Kichiro sambil terus berlari. Kirara segera meraih tangan Hiki dan menariknya berlari menuju kegelapan hutan.

Sementara Kichiro terus berusaha dengan sekuat tenaga menghalau musuh. Tapi Kichiro sudah mulai kelelahan, ia sudah tidak selincah tadi. Ia juga tidak tidak bisa berkelit sehingga anak panah itu menancap di dadanya. Dengan bersimbah darah Kichiro berlari menuju kereta kuda.
Sementara Lady Miyuki dan Megumi gelisah menantikan Hiki dan Kirara. Mereka dikejutkan dengan Kichiro yang bersimbah darah. Anak panah menancap di dadanya.

“Lady…, La..dy…., selamatkan diri kalian” Ucap Kichiro terbata-bata menahan sakit.

“Kichiro…, kau terluka” Lady Miyuki turun dari dalam kereta dan menitikkan air mata melihat Kichiro terluka.

“Ce…pat …lah..per..gi… lady.., selamatkan diri ka…li…an”

“Kau harus bertahan Kichiro, bertahanlan” Lady Miyuki memegan tubuh Kichiro yang limbung

“Cepat! Tak ada wak…tu..”

“Bagaimana dengan Hiki dan Kirara, aku akan mencari mereka dulu”

“ja..ngan khawa…tir, nona ke..cil.., bi…sa… menyelamatkan di..ri…, nona kecil… ingin…hamba…menyelamatkan.. la..dy..” Ucap Kichiro dengan nafas tersengal-sengal, kemudian menutup mata untuk selamanya. Lady Miyuki ketakutan dan segera naik ke dalam kereta, kemudian menyuruh kereta segera menjauh dan melarikan diri.

Pasukan musuh yang mengetahui buruannya melarikan diri segera mengejar. Di dalam kereta Megumi terus saja terisak ketakutan sementara Lady Miyuki terus memikirkan nasib kedua puterinya.
Tapi nampaknya pasukan musuh bisa mengejar kereta kuda Miyuki. Saat beberapa laki-laki memaksa Miyuki dan Megumi keluar, beberapa orang tak dikenal menolong mereka. Orang tak di kenal itu kemudian membawa Lady Miyuki dan Megumi ikut bersamanya.

Jaka sembung lompat ke awan….

Bersambung ya kawan….😀

*) tanto = pedang pendek
*) mochi = kue kecil yang terbuat dari beras lalu di panggang atau dibungkus dengan rumput laut
*) kabumaki = kue yang terbuat dari ganggang atau ikan tuna dan biasanya dimakan saat tahun baru

1 Comment

  1. chapter 2 tensi-nya mulai meninggi nih, kewl🙂
    ditunggu lanjutannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: