Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Cerpen: Ada Bias Cinta Pada Bola Mata Ibu

Kepada Mama dan seluruh Ibu-ibu diseluruh nusantara atau siapa saja yang menjadi seorang Ibu, aku ucapkan,

SELAMAT HARI IBU

Dan ini adalah persembahan dariku buat para Ibu. Mungkin cerpen ini jauh sekali dari kata bagus, karena aku masih dalam proses belajar

Semua ini adalah fiksi, jika ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulan belaka. Semoga saja ada hikmah yang bisa diambil dari sini. Mohon maaf jika kurang bagus.

Aku adalah anak malang yang tak pernah diinginkan ibu. Ibu selalu membenciku disaat ibu ibu yang lain sangat menyayangi dan mencintai anaknya. Bahkan perseteruanku dengan ibu sudah dimulai sejak aku masih dalam gerha ibu. Bagaimana ibu tega ingin menghabisi nyawaku. Dengan segala macam cara ibu pernah lakukan untuk membunuhku. Mulai dari ramuan-ramuan tradisional hingga obat-obatan berbahaya pernah ibu masukkan ke dalam perutnya. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku begitu kuat bercokol dalam perutnya. Apa salahku? Sehingga ibu begitu benci padaku. Bukankah dia yang salah, kenapa mau melakukan perbuatan yang membuat aku ada dalam perutnya.

Racun demi racun ditumpahkan padaku, membuat nafasku hampir saja berhenti, tapi malaikat-malaikat itu menjagaku dengan baik, sehingga aku masih bisa bertahan dalam perutnya. Racun-racun itu telah membuatku merasa panas jika mengenai jantungku, membuat aku merasa pedih jika mengenai mataku, hampir saja tubuhku meleleh tak berbentuk lagi, hingga aku memberontak dari perut ibu karena aku sudah tidak tahan lagi dengan siksaannya, akupun keluar dari perut ibu dengan tangisanku yang sangat keras, mukaku aneh, hidungku ringsek, kakiku kecil sebelah. Ibu tak memberi nama padaku, hanya seorang nenek tua yang memberiku nama Kuat, mungkin dia berharap aku jadi laki-laki yang kuat. Dengan diriku yang tak sempurna membuat ibu semakin marah. Ibu membesarkan aku dengan kebencian dan amarah yang meledak-ledak bagai nyalak petir yang tak kunjung reda. Tak ada kasih sayang sedikitpun untuk aku.

***

Hari-hariku kulalui tanpa kasih sayang dari ibu, aku kesepian dan kedinginan tanpa seorang teman, semua orang jijik melihatku. Kala gelap turun lebih cepat dan matahari tampak letih dan hendak beradu di ufuk barat, angin yang lembut menerpa dedaunan, terkadang mereka bergumul dan mengempas dedaunan pada pohon-pohon hingga segala yang terlewati menjadi kebas. Dan aku sering berlari ke belakang rumah, aku berbicara sama apapun yang aku temui di sana, sama pohon-pohon sama bintang-bintang di langit, karena cuma mereka yang setia menemani aku. Ingin rasanya aku terbang ke langit temui bintang-bintang itu, tapi itu hanya mimpi saja karena aku tidak memiliki sayap.

Malam itu ibu pulang sangat larut, aku mengendap-endap mengintip ibu, kulihat ada memar di pipi ibu. Ingin sekali aku mengobati luka ibu, atau sekedar membawakan air hangat untuknya, entah apa yang dilakukan ibu diluar sana. Aku coba berjalan dekati ibu. Tapi baru saja aku ingin mengobati luka ibu, dia sudah berteriak

“jangan sentuh aku! Anak sialan! Hardik ibu padaku.

“ini semua gara-gara kamu! Amarah ibu semakin jadi, kemudian ibu tampar pipiku, plak!

Sangat keras sekali. Rasanya sangat panas, tapi tak sedikitpun air mata keluar basahi pipiku. Mungkin air mataku sudah kering bagai musim kemarau dibulan juli. Atau air mataku sudah hilang sejak aku merintih dalam perutnya saat dia ingin menghabisi nyawaku.

Tahukan engkau ibu, kalau aku sangat merindukan ibu. Saat kulihat induk kucing yang sedang menyusui anak-anaknya, aku semakin iri sama mereka, betapa sayangnya induk kucing itu pada anak-anaknya.

“kau sangat beruntung sekali, ibumu begitu sayang padamu”ucapku suatu hari pada seekor anak kucing itu.

“Kalau aku jadi kamu, sudah aku habisi perempuan itu” sahut anak kucing

“Tapi dia ibuku” kataku

“Perempuan itu telah jahat padamu, bahkan sejak kamu masih dalam perutnya”

“Tidak! aku tak akan bunuh ibuku, aku rela lakukan apa saja agar dia bisa mencintai aku”

“tapi sampai kapan kamu akan bisa bertahan”

“entahlah” jawabku

Ibu, betapa aku rindu tangan ibu di atas dahiku,kemudian tangan ibu bergerak pelan-pelan mengelusku sampai aku tertidur seperti anak kucing itu. Rinduku sudah merasuk ke dalam sukmaku, menerobos aliran darahku, hingga membuatku sulit bernafas. Setiap hari aku tahan rinduku ini untuk ibu. Tapi tak sedikitpun ibu merasakannya. Ingin aku menangis dan mengadu padamu saat anak-anak itu mengejek aku, ingin rasanya aku menampar mereka seperti yang ibu sering lakukan padaku disaat ibu marah. Tapi aku tak pernah melakukannya. Ibu memperlakukanku seperti binatang yang terbuang.

Malam itu seperti biasa ibu pergi, aku penasaran dengan semua yang ibu lakukan diluar sana, ingin sekali aku mencegah ibu pergi, tapi tentu saja ibu tak kan pernah hiraukan ucapanku. Aku begitu gelisah menunggu ibu pulang, hingga ada seorang yang mengantar ibu. Rupanya ibu baru mendapat musibah. Tubuh ibu lunglai bagai tak bertulang. Kini tubuh ibu tak bisa bergerak, ibu lumpuh. Apa ini sebuah hukuman dari Tuhan untuk ibu? Atau hanya kebetulan saja? Tapi yang jelas sekarang ibu tidak bisa lagi menampar pipiku atau mencaci maki aku dengan ucapannya yang seperti badai itu. Alangkah jahatnya ibu jika aku ingat semua itu.

***

Setelah ibu lumpuh, tak banyak yang bisa ibu kerjakan selain hanya berbaring. Aku berusaha merawat ibu dengan segala kemampuanku. Tak ada dendam di hatiku ibu, aku ikhlas merawat ibu. Semua perlakuan ibu sudah aku maafkan. Kini ibu tidak bisa bekerja, aku berusaha mencari sesuap nasi demi ibu. Aku berjalan tertatih-tatih karena kakiku yang pincang ini, kususuri tiap gang untuk memungut sampah-sampah itu. Semua aku lakukan demi ibu. Aku tak pernah takut semua orang menghinaku, aku juga tidak takut semua orang mengusir aku, cuma satu yang aku takutkan yaitu ibu tak akan pernah mencintai . Aku tak bisa mendapatkan surga dari ibu.

Mungkin malam ini aku hanya bisa membeli sebungkus nasi untuk ibu saja. Dan seperti biasa aku tidak akan makan demi ibu. Saat kusuapi ibu hanya diam, masih kulihat kebencian di mata ibu, meskipun tak sepatah kata terucap dari bibir ibu. Walau akhirnya ibu mau juga menghabiskan nasi itu. Hatiku kian pilu, kenapa ibu tak bisa mencintai aku. Ibu, tahukan ibu diluar sana kala rintik-rintik air mulai turun aku seret kakiku, aku kedinginan ibu, aku juga kelaparan, dan mereka semua mengejekku. Tahukah ibu, diluar sana setiap hari yang kutuju adalah gunungan sampah, tahukah ibu diluar sana aku dipukuli orang semua demi ibu. Kuceritakan ini semua agar ibu terbuka hatinya. Aku keluarkan bungkusan yang aku siapakan untuk ibu. Aku dekati ibu, seperti biasa kulihat sorot mata ibu yang membenciku.

“Ibu, kulihat baju ibu sudah usang dan compang camping, aku ada sedikit uang, dan ini adalah tabunganku selam ini” ucapku sambil membuka bungkusan plastik warna hitam yang aku pegang. Aku pakaikan baju yang aku beli dari pasar tadi siang, meskipun cuma baju murahan . Ibu terlihat bersih saat ini. Tiba-tiba saja tanganku basah oleh sesuatu. Dan saat kulihat ibu ternyata ada buliran-buliran air mata disana. Yah, ada bias cinta pada bola mata ibu. Aku baru sekali ini melihat ibu menangis, bias cinta mata ibu begitu meneduhkan. Tak kulihat lagi kebencian di mata ibu. Aku bagaikan menemukan oase di tengah gurun yang tandus. Rinduku telah tersirami saat buliran-buliran air mata ibu mengenai tanganku. Kuusap lembut pipi ibu yang basah. Aku sayang ibu, aku rindu saat-saat seperti ini sudah lama ibu, Kemudian aku peluk ibu.

Radesya, 21 desember 2008

25 Comments

  1. Ra, ini sebuah cerita elegi, tapi indah sekali.
    Pintar sekali kau merawinya.
    Aku suka dialog dengan anak kucing itu. Filosofinya dalam sekali.
    Bagus sekali, Ra.

    Oya, kira-kira apa yang hendak kau persembahkan pada mamamu esok hari?😉

  2. Ibu adalah sosok terkuat dalam hidup ini, kita sebagai anak hanya berharap bisa menjadi anak yang shaleh yang mau berterima kasih dan memohon ampun datas segala dosa-dosa kita terhadapnya

  3. Sungguh bagus apa yg kau tuangkan dlm cerpen ini, sampai aku mnyangka tokoh ini adalah engkau pribadi.

    Bgitu mnyentuh dek.. Smoga cerita berikutnya tak kalah bagusnya…

  4. salam kenal… kutunggu cerita lainnya lagi.

  5. @Daniel Mahendra

    Thx banget kak, aku baru belajar kak, jadi nggak bisa sebagus kak Daniel kalau sedang bercerita..

    buat Mama, aku akan ucapin terima kasih, ada surat dan puisi special juga, pingin sekali lihat mama selalu tersenyum, coz mama single parent yang hebat..

    @omiyan

    benar sekali, tanpa seorang Ibu, tentu kita tak akan bisa seperti ini

    @rismaka

    aku baru belajar kak..
    tak sebagus kalau kakak yang bikin..

    Thx ya kak…

    @lintang

    salam kenal juga..
    iya, mudah-mudahan masih diberi kesempatan untuk bercerita

  6. A: “Anak ini sudah selayaknya menjadiibu.”
    B: “Maksudmu?”
    A: “Lihat, naluri keibuannya sudah kental dan kuat.”
    B: “Ya, tetapi ia masih terlalu muda. Biarkan ia membekali diri dengan semua ilmu kehidupan.”
    A: “Ah… sambil menjadi ibu, ia akan mendapatkan semua itu.”
    B: “Kalau aku melihat, ia punya talenta seni menulis.”
    A: “Ya, deh. Naluri keibuan akan semakin tajam bila dilandasi pendidikan yang panjang dan tinggi.”
    B: “Jadi, menjadi ibu tidak gampang ‘kan? Berat dan penuh pengorbanan. Makanya, sehari untuk hari ibu tidaklah cukup. Bahkan 365 hari dalam setahun!”

    Begitulah saya dengar percakapan 2 orang setelah membaca Cerpen di atas di sebuah warnet di pojok alun-alun Solo, mbak Re. Salam hangat.

  7. Mengaku sebagai baru belajar, tapi ceritamu bagus mba Re. Salam kenal ya, kunjungan perdana. Ditunggu kunjungan baliknya. Salam.

  8. Itmam Aulia

    wah bagus nich ceritanya… menyentuh… bahasanya juga mengalir… terus berkarya! ^_^semangat^_^

  9. luv u mom deh pokoknya
    met hari ibu:)

  10. Untuk ibumu, selamat Hari Ibu
    Untuk semua ibu, selamat Hari Ibu
    Untuk calon ibu, di manakah kamu?
    sapa nih yg mau jd ibu anak-anakku🙂

  11. @Hejis

    hahaha….
    Pak Hejis bisa ja ya…

    mang di pojok alun-alun solo ada warnet?

    Salam hangat juga..

    @alrisblog

    iya koq, ni masih belajar
    thx ya dah mampir

    salam kenal juga

    @Itmam Aulia

    thx ya kak

    Semangat!!

    @depz

    iya deh

    @septarius

    thx, met hari ibu buat ibu kamu juga ya..

    ayo-ayo siapa yang mau daftar jadi ibu anak-anak septa..!!!!

  12. Ibu adalah org yg berjuang melahirkan kita ..
    sayangilah ibu kita semua ..

  13. Jay

    Terima kasih ibu. Tanpa engkau Indonesia ini tak mungkin bisa merdeka. Karena seluruh pejuang engkaulah yang melahirkannya.

    Terima kasih ibu. Jasa mu tiada tara.

    Selamat hari ibu

  14. nice

  15. sahabat..
    blue suka banget kamu mau menulis cerpen. pasti lebih hebat dariku…
    semangat
    salam hangat selalu

  16. Redesya, jika lihat tulisanmu, tak menyangka engkau masih muda sekali….
    Teruslah menulis, tulisanmu indah….

  17. busyet!!! sampai merinding aku baca tulisan ini…berapa hari buatnya???

  18. ghani

    AH TIDAK!!!!!!
    love you mom!!!

  19. @aGHi

    iya bener, sayangi ibu kita

    @Jay
    selamat hari ibu untuk Ibu kamu ya…

    @(e_A)j(i_p)

    thx

    @bluethunderheart

    aku masih belajar sahabat
    salam juga..

    @endratna

    thx ibu
    seneng banget dapat pujian dari ibu, jadi tambah semangat

    @dendin

    mungkin 3 jam gitu

    @ghani

    tidak apa ghan?

  20. Namanya ada yang mirip nama saya, “ghani”:mrgreen:

    Ibu…

  21. jangan pernah untuk menyakiti hati seorang ibu karena bagaimana pun ia adalah orang yg sdh melahirkan kta
    karena jika kita menyakiti hati ibu maka kita akan menyesal selama nya

  22. Terharu… T_T

  23. coba keterangan fiksi atau nggaknya belakangan ra, bisa pembaca penasaran he2

    *baca dulu ah*

  24. terimakasih atas karya indah ini ra…
    terimakasih atas kepedulianmu terhadap mahluk kecil itu, terimakasih atas makna cinta yang kau tuliskan antara seorang anak dan ibunya…

    walaupun ini fiksi, tapi hal seperti itu tentulah pernah dilihat atau di dengar. dan dikembangkan dalam bentuk fiksi yang luar biasa….

    betapa hebatnya sang anak, tak ada rasa dendam atas penyiksaan semenjak dalam kandungan. dia tak berharap apa2, tak berharap kesejahteraan, tak berharap perut kenyang, dan juga tak berharap pakaian indah. dia hanya menginginkan cinta dari seorang ibu….

    Ibu, bagaimanapun kejamnya, bagaimanapun tertutupnya mata hati, engaku tetaplah seorang ibu. dan percayalah, kalo lumpuhmu itu bukan lah suatu musibah melainkan cara tuhan melumpuhkan segala kesombonganmu tuk mengerti arti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya…..

  25. Amelia68

    Kereenn…🙂
    Bagus banget, supaya kita jadi makin sayang sama ibu kita…
    Salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: