Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Pendidikan dan Kemiskinan

Pagi ini ada yang membuat aku merasa beda. Saat aku lalui jalan yang biasa aku melewatinya ada truk yang mengangkut pekerja yang sedang menggali tanah. Kulihat wajah-wajah yang kuyu dan nampak kelelahan. Dan lebih menyedihkan lagi mereka rata-rata masih usia sekolah. Mungkin mereka pantasnya masih duduk di bangku SMP, mereka seharusnya masih belajar. Bangun pagi, mandi, sarapan, dan tinggal berangkat ke sekolah. Tapi kenyataannya tidak demikian. Mereka bangun pagi , mandi, sarapan pagi (mungkin juga belum sarapan pagi) sudah harus berangkat kerja. Tentunya bukan pekerjaan yang ringan.

Apakah mereka nggak mau sekolah? Bukan! Mereka juga ingin sekolah seperti teman-temannya yang lain, tapi mungkin karena keadaan yang memaksa mereka harus bekerja. Semua tentu hanya demi hidup, hidup yang tak pernah memberi pilihan bagi mereka. Siapa sih yang mau dilahirkan menjadi miskin? Nggak ada bukan? Tak ada seorangpun yang mau mengalami nasib sama seperti mereka. Tapi tentunya nasib itu bisa diubah kalau kita mau berusaha mengubahnya. Tentu hanya dengan belajar. Tapi sayangnya mereka tak mempunyai kesempatan itu.

Kemiskinan telah membelenggu negri ini, biaya sekolah semakin tak terjangakau lagi. Sungguh ini memang ironi. Memang sih ada subsidi dari pemerintah, tapi itu belum cukup. Ada beasiswa juga bagi yang cerdas, tapi bagaimana dengan yang punya otak pas-pasan tapi masih ingin sekolah sementara mereka tak mampu. Tak ada pilihan bukan?

Bahkan ada yang nggak punya semangat untuk sekolah karena memang sudah menjadi kebiasaan mereka. Lulus SD langsung bekerja. Mereka kehilangan semangat belajar juga karena keadaan. Bahkan mereka tak pernah berani bermimpi menjadi orang hebat. Padahal hanya dengan bermimpi dan memiliki cita-cita tinggi yang bisa memacu semangat.

Aku lebih benci lagi melihat orang tua yang melarang anaknya untuk sekolah. Tentu saja dengan alasan yang klise, ‘buat makan saja susah, apalagi buat sekolah’. Padahal sebenarnya mereka mampu. Bahkan mereka mampu merokok tiap hari. Masak tak bisa menyekolahkan anaknya. Bukankah rokok juga mahal. Mereka tidak tau betapa pentingnya sekolah. Bisa membaca dan menulis saja itu tidak cukup. Karena sekolah tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis saja, tapi masih banyak lagi ilmu yang kita dapat.

Bisakah bangsa kita terbebas dari kemiskinan dan kebodohan? Kalau ingat teman-teman kecilku di sana hatiku jadi tambah pilu. Mereka sebenarnya ada niat untuk terus sekolah, tapi sayang sekali itu hanya sebatas keinginan saja. Andai saja aku sudah dewasa atau sudah jadi orang sukses aku akan dirikan sekolah buat mereka. Tentunya tanpa biaya, gratis!!!, tapi itu baru hayalan saja,mungkin saat ini aku hanya bisa bantu mereka membaca dan menulis saja.

Potret kemiskinan sudah banyak terekspose di media, bahkan banyak acara televisi yang menampilankannya sebagai program relity show, ada yang membikinkan rumah, ada yang membagikan uang, dan masih banyak lagi. Dan yang terbaru adalah tinggal berbaur dengan mereka, kemudian menolong segala aktifitasnya. Dan yang terakhir menagis karena haru. Padahal mereka baru beberapa hari saja merasakan menjadi miskin, sudah sedemikian sedihnya, apalagi mereka yang benar-benar miskin. Tiap hari harus menahan lapar, bekerja berat, dan hanya beberapa rupiah saja yang mereka terima. Tapi yang ditampilkan dalam acara itu masih termasuk beruntung. Tidak seperti anak-anak jalanan yang aku temui.

Anak-anak jalanan yang tak bisa menikmati pendidikan, hidup selalu dijalan, ditengah panasnya kota. Bahkan aku pernah melihat anak jalanan yang sedang sakit, menggigil tanpa ada yang menolong ,padahal disaat sakit kita pasti ingin dimanja orang tua, tapi siapa yang akan memanjakan mereka? Orang tua saja mereka tak punya. Sungguh menyedihkan sekali. Padahal mereka masih anak-anak, belum lagi harus menjalani kerasnya hidup di jalan.

Kalau melihat semua yang terjadi dengan bangsa ini sungguh aku menyesalkan dengan tindakan koruptor-koruptor itu. Uang ratusan milyar itu kan bisa buat membantu mereka yang membutuhkan. Bisa buat bangun sekolah bagi mereka yang tidak mempunyai biaya. Bisa buat bantu anak-anak jalanan, bisa bantu warga miskin yang kelaparan. Atau bisa buat bantu saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman agar bisa juga menikmati pendidikan. Ah tampaknya ini cuma hayalanku saja.

Penididikan sangat penting sekali, tapi jika masih ada kemiskinan apa kita bisa mendapatkan pendidikan itu? Aku bersyukur sekali karena masih bisa terus sekolah. Aku bersyukur dilahirikan menjadi Aku, meskipun aku harus kehilangan papa sejak kecil. Aku bersyukur tidak hidup dijalanan dan masih punya tempat berteduh. Aku bersyukur masih bisa menangis, melihat mereka yang kesusahan, dengan menangis berarti aku masih memiliki hati. Kalau aku masih memiliki hati aku pasti punya rasa malu, kalau aku punya rasa malu berarti jika suatu saat aku dah dewasa aku tidak akan jadi koruptor, aku tak akan memandang rendah orang lain dan tentu saja aku tidak akan berbuat jahat sama orang lain. Aku merasa sangat beruntung sekali. Thanks Allah…

29 Comments

  1. mungkin ‘penyakitnya’ blum bisa dibasmi secepat keinginan kita, mungkin yang bisa dilakukan sekarang adalah mulai berhenti menyalahkan orang lain, termasuk koruptor, dan mulai bangkit, lakukan langkah nyata menyelamatkan sesama supaya pada akhirnya kitalah yang akan diselamatkan -masuk surga. Mulai dengan angan untuk membantu yang kekurangan kurasa sudah merupakan satu awal yang baik ^^

    • iya sih…
      bukan maksud aku menyalahkannya
      mulai sekarang kita harus bangkit, setuju dengan menyelamatkan sesama, kita mulai dari diri kita sendiri, dari lingkungan yang terdekat, so kalau di lingkungan kamu da yang kekurangan kamu mesti bantu.

  2. iya kadang aku bantu tapi masalahnya aku kadang-kadang juga memerlukan fufufufu

  3. begitulah indahnya hidup, adakalanya kita membantu dan adakalamya kita yang minta bantuan…

  4. Waduh, ini mau komen jadi bingung, soalnya kalian sudah berdiskusi berdua di sini. Hehe. Baiklah. Kusimak dulu tulisannya ya, Redesya…

  5. Sebetulnya solusinya gampang. Guna mensukseskan pendidikan nasional dan wajib belajar, pemerintah harus memberikan pendidikan dasar/ketrampilan gratis 100%, memberi santunan bagi mereka yg minim sekali (utk transpor/makan/pakaian), memberikan modal untuk usaha jika lulus nanti.

    Dana ini bisa ditarik dari laba perusahaan yang ada di Indonesia: 10-20% dan juga dari pajak kepemilikan mobil dan rumah: ambil 10% juga.

    Tentu saja tidak ada lagi korupsi lho! Aku jamin dalam 10th. Tak ada anak Indonesia yang keluyuran di jalan.

  6. supaya tidak miskin harus pintar
    pintar harus sekolah
    untuk sekolah ga boleh miskin

    seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri…

    *berkunjung lagi ^^

  7. iya, pendidikan sangat penting🙂

  8. renxe

    masalah klasik ya…kemiskinan dan pendidikan di indonesia.
    kalau kita pandang dari segi realita, semuanya serba salah…pemerintah ingin memajukan, tapi tidak ada dana dan sumber daya manusia yang bermutu. mereka yang ingin sekolah, jg tidak punya dana. para pemberi beasiswa ngga ingin uangnya sia2 karena itu mereka membiayai yang pintar saja. nah, sekolah2 pun, terkadang masih belum bisa mendidik siswanya dengan baik.

    andai saja mutu pendidikan di negeri ini lebih baik dari sekarang, efeknya pelan2 akan berantai dan menyelesaikan hambatan2 diatas sedikit demi sedikit…

  9. ghani

    BELAJAR DAN BELAJAR!!!

  10. ya…lukisan kehidupan anak negeri dindonesia sudah menetes air mata bagi siapapun yang memandangnya.

    Semoga,ekonomi bisa membaik,yang berniat membantu semakin banyak,yang susah cepat tertolong,kalau mau tunggu pememrintah,anak jalanan keburu putus harapan,keburu sudah tidak memiliki keinginan untuk sekolah,keburu sudah besar …

    Salam hangat persahabatan dariku!😀

  11. Begitulah, jutaan anak di negeri ini tidak bisa menikmati indahnya pendidikan yang cukup. Tidak ada satu negara maju pun yang tidak memikirkan pendidikan sebagai prioritas utama. Tidak ada satu negara pun yang bangkrut yang membiayai pendidikan sebagai prioritas pembangunannya.

    Btw, saya salut banget sama mbak Re. Semuda itu sudah punya wawasan dan mimpi dan tekad yang mulia. Saya berdoa semoga mimpi dan tekadnya terkabul kini dan nanti. Amien. Salam hangat.😀

  12. pendidikan di usia muda sangat penting
    karena sel-sel neuron berproduksi banyak
    sehingga daya tangkap terhadap ilmu baru masih ok

    contohnya di negara maju dana untuk pendidikan sangat besar,karena mereka sadar pentingnya SDM yg berkualitas

    slalu bersyukur🙂

  13. ricnes

    keadaan spt itu ada dan diciptakan oleh Allah agar kita salng berbagi dan mensyukuri apa2 yg kita terima….
    biar tidak dapat laknatNYA dan makin diberi lbh kemudian harinya….kita mlai dgn diri kita aja dl Re…yuks…
    ayo semangat….kita buktikan….

  14. jadi inget film LASKAR PELANGI
    film yang hebat!!!

  15. hendrakancut

    permisi numpang lewat….

    memang pendidikan thu gak jauh dari kemiskinan…

    hendrakancut.wordpress.com

  16. Saya juga merasa prihatin dengan keadaan teman-teman kita yang blum bisa melanjutkan pendidikannya karena faktor ekonomi.. entahlah mengapa pendidikan di Indonesia terlampau mahal ya..

    Belum lagi kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan di daerah terpencil.. so complicated..

  17. solusinya sih pendidikan di gratisin aje…….

  18. @Daniel Mahendra

    Udah belum kak daniel?
    kalau udah kasih koment ya…

    @juliach

    Aku setuju sekali Bu…

    @Fikri Faris

    iya, nggak ada habisnya…

    @Dalila Sadida

    Yup…

    @renxe

    Wah, pemikiran yang bagus kak
    Aku sependapat..

    @ghani

    So.., kamu harus terus belajar ya…

    @kweklina

    bener kak..

    Salam persahabatan diterima…

    @Hejis

    Thx Pak atas doanya…

    Salam hangat juga..

    @septarius

    bener sep…

    iya kuselalu bersyukur..

    @ricnes

    Iya.., ayo semangat!

    @Odie

    Laskar Pelangi memang film hebat…

    @hendrakancut

    silahkan lewat

    Iya..

    @Prasetyo Muchlas

    yup, bener banget tuh…

    @rocknoida

    Setujuuuuuuu…

  19. presiden sih udah bilang subsidi pendidikan nggak akan dikurangin. anggaran negara 20% untuk pendidikan semoga tetap…tetap aja banyak yang nggak bisa sekolah…

    di bekas kampus saya aja biaya spp/semester udah 7,5 juta sekarang. jaman saya dulu masih 500 ribu. gimana orang-orang jadi nggak takut untuk kuliah…

  20. Hai ka’ pa kabar nie??
    ko gak pernah maen ke blog ku c?? sibuk pow??
    Boleh tukeran link tow?

  21. wow…kita punya topik yang berkaitan nih…:):)

  22. @geRrilyawan

    iya, sekarang memang segitu, belum lagi pas masuk pertama kali yang puluhan juta…

    @accan

    kabar aku baek..
    Iya nih lagi sibuk
    boleh koq

    @Andre

    owh ya…

  23. Selamat ulang tahun, Redesya.

  24. thx kak Daniel…

  25. Aku belum kasih komentar yang serius di postinganmu yang ini, Redesya. Sedang di luar kota.

  26. Aku belum kasih komentar yang serius di postinganmu yang ini, Redesya. Sedang di luar kota.

  27. Iya kak, nggak papa koq

  28. 1MiEip Thanks for good post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: