Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Kelamin Ganda [Ambiguous Genetalia]

Dulu aku berpikir , betapa enaknya menjadi cowok. Kemanapun bisa bebas nggak ada yang pedulikan. Bisa teriak-teriak semaunya, bisa maen bola sepuasnya, bisa panjat pohon setinggi-tingginya, bisa apa aja sesuai dengan kehendaknya.

Tapi kini ku tahu kalau aku harus lebih banyak bersyukur karena aku tidak mengalami nasib seperti yang dialami anak yang aku lihat di TV. Sungguh sangat menyedihkan mereka terlahir dengan kelainan, mereka memiliki dua kelamin atau kelamin ganda.

Sebenarnya sebutan kelamin ganda itu tak selalu pas. Yang pas adalah ketidakjelasan jenis klelamin atau ambiguous genetalia / sex ambiguity. Dan belakangan ini para ahli endoktrin menggunakan istilah Disorders of Sexual Development [DSD].

Ambiguous sexual sering tak diketahui diagnosisnya, akibatnya sering muncul anggapan yang salah. Bahkan kadang orang tua membawa anaknya sudah berusia lebih dari 2 tahun, malah ada yang sudah dewasa. Padahal terlambatnya pemeriksaan berakibat pada salahnya penentuan jenis kelamin, sehingga menimbulkan masalah sosial dan psikologis. Sayangnya lagi belum semua laboratorium di kota-kota besar di indonesia dapat melakukan analisi kromosom untuk menentukan jenis kelamin.

Aku jadi berpikir, gimana ya kalau ternyata dokternya salah mendiaknosa, yang seharusnya dia cowok malah menjadi cewek. Tak bisa kubayangkan kalau itu menimpa diriku. Bahkan banyak dari mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, jadi meskipun sudah tau terjadi kelainan mereka tak mampu untuk membayar biaya operasinya.

Sungguh aku sangat sedih, bagaimana seandainya aku yang mengalami hal itu? Aku semakin bersyukur pada Tuhan karena aku tidak mengalaminya. Aku hanya bisa membayangkan gimana ya perasaan mereka? Dari kecil sudah terbiasa memakai pakaian cowok, bertingkah juga layaknya cowok, tapi ternyata mereka bukan cowok, sungguh suatu beban psikologis yang amat berat. Belum lagi mereka harus menanggung ejekan dari teman-temannya.Apalagi seandainya mereka salah memilih, nggak bisa kubayangkan mereka harus mengalami beban mental seumur hidup.

Ini ada sebuah kisah, nah yang ini bukan karena dia memiliki kelainan jenis kelamin. Ada seorang bayi laki-laki terlahir dengan sempurna tanpa cacat fisik dan mental. Tapi kedua orang tuanya tidak menginginkan anak laki-laki, tapi ingin anak perempuan. Dan dari sinilah petaka itu bermula, bayi yang seharusnya laki-laki di jadiakan perempuan. Dia diberi nama dengan nama seorang perempuan, di didik seperti layaknya seorang perempuan. Rambutnya juga di panjangin layaknya perempuan. Semua orang juga mengira kalau dia itu seorang perempuan, hingga anak ini masuk SMP.

Di sekolah dia tidak seperti anak perempuan lainnya yang bersikap ceria, dia selalu murung dan sangat pendiam. Seperti memiliki beban yang sangat berat. Kebetulan ada seorang guru yang selalu memperhatikan sikapnya. Dia duduk satu bangku dengan teman perempuannya. Di sela-sela pelajaran dia tidak pernah kosentrasi mendengarkan pelajaran yang diberikan gurunya. Tapi dia asyik memandang teman sebangkunya. Bahkan dia sering pegang tangan temannya itu.

Suatu hari anak itu mencium teman sebangkunya itu, dia juga pegang tangan temannya itu dengan sangat erat. Temannya mulai curiga dan melaporkan kepada guru BP di sekolah. Kemudian anak itu di panggil keruangan guru BP. Guru itu minta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga dia berbuat seperti itu. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Kemudian dia menceritakan kalau dia telah jatuh cinta pada teman sebangkunya. Guru itupun jadi bingung, kemudian dia mengaku kalau sebenarnya dia adalah anak laki-laki.

Guru itu semakin tak mengerti, anak itu kemudian menceritakan semua yang terjadi padanya. Akhirnya kedua orang tua anak itu dipanggil ke sekolah untuk menjelaskan semuanya. Sejak saat itu semuanya menjadi jelas. Setelah mendapat pengarahan dari pihak sekolah akhirnya kedua orang tuanya bisa menerima kalau sebenarnya anak mereka adalah laki-laki. Kemudian anak itu di suruh potong rambut, memakai pakaian laki-laki juga dan mengubah namanya menjadi nama laki-laki.

Anak itu bisa tersenyum bahagia sekarang. Ini adalah pelajaran bagi para orang tua bahwa tidak bisa memaksakan kehendaknya, dan tentulah anak yang menjadi korban. Semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi para orang tua.

19 Comments

  1. Well i am obvoiusly a boy… sayangnya aku gak macho, gak kayak cowo laennya, ku lebih feminim. menyedihkan.

  2. Feminimnya di sisi apa dulu…, asal tidak feminim yg ingin pakai baju cewek aja, ntar malah bisa jadi bencong…^^

  3. wah baru denger tuh cerita kayak gitu,
    jadi yang salah siapa dong?

  4. justu aku sebaliknya, dulu berfirkir…betapa enaknya jadi, kemana-mana selalu di sayang…mainan selalu dikasih sesuatu yg tidak membahayakan dirinya, dibelikan mainan bunga, dll..cowok malah dikasih pistol !!

  5. Alex

    ketika kita bisa menerima apaadanya kita itulah bentuk syukur kita

    salam kenal mbak🙂

  6. @septarius
    nggak ada yang perlu disalahkan lagi…

    @HILMAN
    pistol-pistolan juga tidak berbahaya koq…

    @Alex
    yup..,betul sekali

    salam kenal juga

  7. joe

    berarti ‘rumput tetangga lebih hijau’ juga berlaku di sini dong

  8. joe

    o iya, salam kenyal ya..

  9. Kejadian ini mengingatkan saya sama beberapa kasus mantan atlet putri Indonesia yang berubah kelamin menjadi pria.

    Saat pertama kali baca berita itu, saya mikir mungkin orang ini punya tekanan mental sehingga mengubah kelamin mereka.

    Eh, ternyata tidak. Mereka sudah menikah dan punya anak. Artinya, testis mereka benar2 normal. Mereka benar2 laki.

    Pantas saja mereka mudah menang saat ada perlombaan.🙄

    Semoga kisah yang ente tulis ga terjadi lagi. Kasian tu anak, beban mentalnya bakal berat.

  10. hehehe
    syukuri aja apa yang di terima😀

  11. ozzymalta

    Bersyukurlah kita punya Orang tua yang bisa menerima kehadiran kita dalam status yang sebenarnya…
    salah satu bentuk Penolakan Identitas seperti cerita diatas jangan lah pernah muncul meskipun dalam bentuk yg sederhana seperti memberi hadiah Boneka kepada keponakan kita yg berstatus Lelaki…(ada nggak ya…?)

  12. @joe

    rumput tetangga lebih hijau?

    salam kenal juga…

    @agungfirmansyah

    Iya kak, aku pernah baca kisahnya…

    semoga cuma dia saja yang alami ini…

    @FaNZ

    Yup…

    @ozzymalta

    Semoga saja kisah ini tidak terjadi lagi

    Temanku cowok ada yang pengoleksi boneka lho…

  13. bayu200687

    ^
    aq selama ini nyimpan bunga…(tapi bunga edelweiss, kenang2 waktu masih suka naik gunung..)

  14. renxe

    wah kasihan sekali…
    tapi dia masih punya ketertarikan dgn wanita ya…
    ada lho kasus serupa spt ini tp si anak udah benar2 berjiwa wanita dan tidak tertarik dengan cewek lagi. karena dia biasa bergaul dengan gadis2 dan mengikuti pola pikir mereka sewaktu kecil…mungkin itu salah satu faktor seseorang menjadi gay?

  15. ku pengen rok itu nantinya jadi trend gak cuma dipake cw, tapi juga cowo. dengan konsep yang agak diganti akhirnya rok bisa pas dipake cowo…. wah kapan ya… hahahaha

  16. wahh..kenapa orang tuanya gak bikin anak lagi aja… klo rejeki dapet cewek toh? he he

  17. iya betul sekali, sayangnya karena suatu hal orang tuanya nggak bisa melahirkan lagi.

  18. Hmmmmmm………..

    Kisah yang menarik sekali

  19. Apa pernah dengar kisah seperti itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: