Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Ketika Rindu Papa

Malam kian larut, membuat dahiku kian berkerut. Mengingat-ingat kenanganku akan papa. Kehilangan sosok figur yang sangat aku harapkan membuat hidupku jadi seperti ini. Setiap malam aku selalu merindukannya. Rinduku akan usapan lembut tangannnya, rinduku akan tatapan teduh matanya, rindu yang selalu membawaku terbang di keheningan malam menjemput impianku bersama papa.

Dalam rinai hujan sore itu, masih membekas di benakku, ketika aku duduk di pangkuan papa. Kita sama-sama suka memandang hujan, suka memandang langit yang luas tanpa batas. Setelah hujan berhenti biasanya akan ada pelangi yang sangat indah. Tapi saat tiba-tiba saja ada suara petir yang sangat keras, aku takut sekali, papa langsung dekap aku, kurasakan hangat dan damai dalam dadaku.

Saat aku bermain memotong-motong sesuatu dan tiba-tiba tanganku keiris, terasa sangat pedih sekali, aku menjerit dan menangis, papa segera menghampiri aku.

“Ajeng kamu terluka?, tangan kamu luka?” ucap papa lembut berusaha tenangkan aku. Ada darah keluar dari jariku, papa hisap jariku, bibirnya mengatup jariku membawa rasa tanang dalam jiwaku , akupun berhenti menangis dan aku merasa begitu dekat dengan papa. Kehangatan yang disalurkan lewat jariku membawa sebuah kekuatan simpul batin diantara kami.

Pernah pada saat shubuh berkabut, aku terbangun dari tidurku karena aku lihat sesuatu yang tiba-tiba bergerak dalam gelap, ya seperti tangan seseorang yang berusaha menarik aku. Aku menjerit ketakutan. Papa langsung ke kamarku.

“Ajeng… Ajeng…, kamu mengigau sayang?” ucap papa saat itu berusaha tenangkan aku. Papa langsung peluk aku, dan aku jelaskan pada papa telah melihat sesuatu dan saat itu papa bilang kalau aku lihat sesuatu yang aneh aku harus pejamkan mataku. Kata-kata itu aku ingat sampai sekarang. Papa selalu ada saat aku butuh perlindungan, kehangatannya bagai mentari pagi yang selalu membuat ceria hati ini. Kesejukan hatinya bagai embun pagi, terasa dingin dan menyegarkan.

Aku masih ingat berapa usiaku ketika sebuah kejadian membuat aku mengerti seperti apa kehilangan itu. Waktu itu hujan turun begitu lebat, gemuruh petir menggema dimana-mana, suaranya begitu memekakkan telinga. Aku sangat ketakutan sekali. Malam itu biasanya papa sudah pulang dari kerjanya. Aku coba keluar kamar dan mencari papa karena kalau ada petir biasanya papa akan dekap aku. Aku terkejut karena di rumahku banyak orang, aku lihat mama dan kakak menangis dan di dekatnya ada tubuh yang terbaring dan dikerumuni banyak orang.

Hujan malam itu bertambah begitu lebat, dan suara petir itu semakin menggila , cahaya kilatnya seperti ingin membelah langit. Aku sudah sangat ketakutan sekali dengan suara petir itu. Aku menghampiri mama, dan aku sangat tersentak, ternyata tubuh yang terbaring itu adalah tubuh papa. Ada darah yang tak henti-henti keluar dari kepala dan mulut papa, mata papa juga terpejam.

“Papa luka?, apa papa terluka?” Ucapku sambil menggoyang-goyang tubuh papa. Saat itu papa tidak bergerak sama sekali.

“Papa….,apa papa terluka? ucapku lagi, tapi papa tetap diam dan tak menjawab pertanyaanku, mama semakin histeris. Saat itu pula terdengar suara petir lagi dan suaranya sangat kencang. aku sangat ketakutan sekali.

“Papa…, ajeng takut, papa peluk ajeng…”, pintaku pada papa, tapi papa tetap diam, kemudian mama peluk aku, aku menangis ketakutan sekali.

Sejak saat itu, hari-hariku terasa hampa, aku jadi sering menyendiri dalam sepi dan sesekali memberanikan diri sekedar mengintip kehidupan itu seperti apa, tapi tetap saja aku tak bisa menikmatinya sebab aku merasa lebih aman berada dalam kesunyian, kesunyian yang memberikan ketenangan. Sepulang sekolah aku lebih sering berada dalam sudut ruangan yang sepi dan memainkan kuas dan pena untuk sekedar corat-coret tak berarti.

Aku sangat bersyukur sekali memiliki kakak yang baik, mama yang baik juga. Kakak sering mendapatiku sedang bersedih, dan mungkin kakak juga merasakan hal yang sama. Kakak sering bilang kalau papa masih menyayangi kita. Kakak selalu ingin aku melupakan kejadian itu, tapi bagaimana caranya? ketika ada hujan disertai petir aku selalu teringat kembali peristiwa itu. Sementara mama semakin gila dalam bekerja, mungkin mama juga merasa sedih yang tak terhingga. Maafkan ajeng mama…

Tahukah papa kalau sekarang ajeng sudah besar? Kurindu papa, hadirlah dalam mimpiku. Aku akan selalu doakan papa.

15 Comments

  1. Dalam kesendirian memang kita selalu akan teringat kepada orang-orang yang kita cintai, yang telah mendahului kita.
    Saya bekerja di tempat kerja yang sekarang karena “amanat” almarhum Papa.
    Saya menikah juga karena “amanat” almarhumah Mama.
    yaaa…………
    Pada gilirannya juga kita yang akan menitipkan “amanat” kepada anak-anak kita.

  2. sekarang aku tambah ngerti kenapa kalo hujan kamu sering sedih… situasinya waktu itu menyedihkan banget ya, kamu yang masih kecil dengan mata kepala sendiri lihat papa dalam keadaan begitu. sori ya, aku yang masih lengkap kedua orangtuaku mungkin gak bisa memahami kesedihanmu.

    Semoga papa kamu berbahagia disana deh ^^ buat kamu, senyum dong

  3. @Mr. Momod
    Papa dan Mamanya banyak buat wasiat ya.., memang kesendirian sering mengingatkan pada sesuatu..

    @immoz
    Besyukurlah kamu masih punya ortu…
    Hujan itu indah, tapi banyak menyisakan duka padaku, apalagi kalau ada petir..

    Thanks.., aku dah senyum koq ^^

  4. Mr. Me

    @3. redesya
    Bukan wasiat….. tapi “amanat”, waktu itu :
    – satu hari sebelum almarhum Papa meninggal, saya dipanggil, “Kalau kami diterima jadi ….. , kamu ambil saja” (waktu itu dalam tahap seleksi, padahal sama sekali tidak tertarik, ngelamar kerja karena ga enak sama yang nawarin).
    – satu hari sebelum almarhumah Mama meninggal, kakak perempuan saya ditanya, “kapan **** (saya) menikah ya?” (waktu itu sudah pacaran 6,5 tahun, padahal saat itu sedang berpaling ke lain hati, tapi almarhumah tidak tahu).
    (a.k.a Mr. Momod)

  5. saya baru “mengenal” papa saya selama 10 tahun terakhir ini…saya jd lebih dekat dengan papa saya sejak mama saya meninggal 10 tahun yang lalu. sayang awal tahun ini beliau juga dipanggil….

    usia memang cuma Tuhan yang tau…

    yang penting kita banyak doa untuk mereka…..

  6. Aku ikut berduka ya…

    tapi masih beruntung dibanding aku, coz papaku tinggalkan aku saat aku masih 6 tahun.

    Usia memang Tuhan yang tentukan, siapa tau juga bentar lagi aku yang menghapa-Nya..

    Aku akan selalu berdoa koq..

  7. Doa anak memang aset orang tua.

  8. Yup…., benar sekali kak…

  9. semoga Allah SWT senantiasa memberi tempat yang indah bagi Papa Redesya disisiNya, Amin. Salam kenal …

  10. Ajeng …. [saya boleh panggil ajeng kan?]
    membaca tulisan kamu ini seolah berkaca pada apa saya alami sendiri. Bapak [saya nyebutnya Bapak, bukan papa. maklum wong ndeso] juga berpulang saat usia saya masih kecil. 9 thun waktu itu. Mendadak juga kepergiannya. Ini yang membuat saya sampai sekarang acap kali bersedih setiap mengenang beliau.
    Tapi …. ya sudah lah, takdir manusiakan sudah di tangan Allah swt. Yang penting kita berusaha menjadi anak sholeh saja. Semoga dengan itu almarhum semakin tenang disana. Karena ini adalah salah satu amal yang tidak akan pernah putus.

  11. renxe

    wah ra..jadi ini yah kenapa kamu begitu takut petir….
    aku jadi ikut sedih ra…membayangkan kamu yg semuda itu harus mengalami hal yg mungkin tidak pernah km bayangkan…dan kehilangan seseorang yg amat sangat kamu sayangi. sekarang aku paham….

    1 hal yg harus km ingat, manusia tidak tahu apa rahasia Tuhan. mengapa Dia memberi setiap manusia garis dan corak hidupnya sendiri2. pasti ada tujuan mulia dibaliknya, meski seolah terasa pedih.. jadi..kamu harus bersyukur ya…jadilah anak yang baik, jangan buat papa mu kecewa dan menyia2kan kasih sayang yang telah dia berikan padamu…

  12. @amrilarifin

    Amin…
    salam kenal juga…

    @BanNyu

    Iya kak…, yang bisa kita lakukan hanya mendoakan saja…

    @renxe
    Iya ,aku akan berusaha jadi anak yang baik…

    Aku juga akan selalu bersyukur…
    Thx ya kak…

  13. hal yg paling menyesakkan adalah menyadari betapa tidak harmonisnya hubungan ku dg ayahku yg tlah tiada 6 tahun lalu😦

    dan saya belum sempat membuktikan apa-apa bahwa saya adalah yg terbaik bgnya.

    feeling blue nih..hiks hiks..

  14. huungg… TT_TT i dunno what to say…

  15. Theo

    Jangankan ditinggal kecil, anak yang sudah berkeluarga saja seperti saya, ketika Papa pergi, sangat tidak siap menerima. Dia membesarkan, menyekolahkan, memberi wejangan. Dia tahu saya sudah ucapkan terima kasih, tetapi bagaimana mengulang lagi kata terima kasih ketika rasa rindu tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: