Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Keluhku Pada Angin

Matahari yang semakin bergelincir, bergerak cepat dan tenggelam ke dasar laut. Masih tersisa semburat jingganya. Gulungan ombak yang menderu pelan dan tenang. Mataku tiba-tiba perih akibat terpaan angin. Aku masih berdiri di sini di ujung senja yang senyap dan terus beranjak pekat. Angin bertiup lebih keras, dan dinginpun kian menyengat. Tampak cahaya samar seolah melapis langit dengan bayangan muram, seperti diriku yang memang sedang muram.

Kutatap langit itu dengan lekat, awan bergerak begitu lambat. Aku semakin terpaku hingga kurasakan desiran angin yang menyentuh kulitku.”Apakah aku pantas bersedih?” tanyaku pada angin yang menyapaku.
Angin hanya menjawab lewat deruannya yang lembut, sesekali rerumputan mengombak seperti mendengar tanyaku pada angin. Aku pejamkan mata dan kurasakan terpaan angin di wajahku. Ah…, sudah berapa banyak waktu telah lewat, aku hanya terpaku di sini. Aku kembali merangaki-rangkai ingatanku, entah sudah berapa lama ingatan itu menetap di jiwaku dan bersarang dibenakku. Ingatanku yang tak pernah kabur, semakin aku ingin melupakan semakin dia muncul.

Kutengadahkan kepalaku, kulihat langit yang kian pekat, rembulan juga ikut bermuram durja, dengan warna yang pucat. kucoba lagi bertanya pada angin.

“Apakah aku pantas bersedih?” lagi-lagi angin hanya menjawab dengan desiran yang lembut menerpa wajahku. semak-semakpun ikut mengangguk. Langit juga tampak semakin pekat dan hitam, sehitam hatiku, apakah mereka tau hatiku yang mengaduh tanpa gaduh.

Ahhh…. tidakkk!!, bukankah aku harus bergembira, karena setelah fajar menyingsing nanti hari kemenangan itu tiba, akan banyak orang yang melangkah menuju tanah lapang dan menyeru nama Allah lewat takbir. dan kau angin akan menjadi saksi, dan kau juga langit ikut pula jadi saksi. Di hari itu segenap mata tak akan kuasa membendung air mata keharuan.

Tidakkk! Aku tetap saja bersedih. Taukah kau angin kenapa aku bersedih? Sebelum fajar itu aku harus berziarah ke makam papa, orang yang paling aku sayangi, dan aku tak akan pernah tahan untuk tidak menangis. Taukah kau angin kenapa aku bersedih? Aku tak akan tega melihat mama yang juga beruarai air mata karena teringat papa juga. Taukah kau angin , setiap lebaran tiba banyak saudara yang menatapku dengan rasa iba. Memandangku yang kemudian juga berurai air mata. Memang ada yang salah dengan wajahku? tentu saja tidak , karena wajahku mirip dengan papa dan mereka akan kembali mengenang papa lewat wajahku.

Dulu waktu kecil aku pernah diajak kesini. di ujung senja yang sama saat lebaran akan tiba, aku dan papa yang hanya duduk termangu dan sekedar menanti sapaan lembutmu angin. Memandang lekat malam yang pekat sambil menyalakan petasan dan kembang api, tertawa bersama. Bukankah waktu itu juga ada kamu angin? masih ingatkah engkau angin?. Angin, aku memang sedang berkeluh kepadamu, masa-masa itu sangat indah bukan? tapi kenapa cuma sebentar saja.

Angin, bukankah aku harus tersenyum? Yaah…, aku akan tersenyum agar mama juga ikut tersenyum, mungkin besok pagi aku akan pasang senyumku yang paling manis. Tak akan aku biarkan orang berurai air mata lagi. Bukankah aku bukan anak kecil lagi yang pantas di kasihani, kan masih banyak orang yang perlu kita kasihani.

19 Comments

  1. benar mentari kau harus senyum supaya hari menjadi ceria. kamu harus bersinar agar yang lain dapat melihat jalannya. hapus air matamu agar kau dapat melihat dengan lebih jelas bahwa dunia tidak seburuk apa yang selama ini kamu lihat.

    ^^ dunia adalah tempat untukmu berkarya dan memberikan warnamu

  2. arri

    sya…,jgn sdh ya,km hrs brsyukur msh bs ziarah lg,pst papamu senang sekali disana,

    nasib kita sama ko’,drpd aku yg G bs pulang,dan tdk bs ziarah karna baru bs pulang nanti pas 100 harinya ayahku,so aku hrs ngmpln uang tuk kperluan nnt di jw

    hehehe….,mf ya,jd curhat nih…

  3. AYO jangan sedih! Redesya pasti bisa!

  4. @immoz

    iya, aku tidak akan bersedih lagi, thanks dah kasih semangat.
    Aku akan tersenyum, aku akan beri warna pada dunia..

    @arri

    thanks kak…

  5. jangan sedih ya… wish u well soon coz now ied fitri

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H, Jafar Shadiq mengucapkan mohon maaf lahir batin

  6. Thanks kak…
    Sama-sama kak…

  7. Masa lalu adalah sejarah, cukup dikenang.
    Hari ini menentukan hari esok dan masa depan, bijaksanalah pada hari ini, pada hari yang suci, di hari yang fitri ini…………… 1 Syawal 1429 H.

    Mohon ma’af lahir bathin

  8. buanglah rasa keluh
    gantilah dengan rasa syukur
    jadikan hati menjadi ikhlas
    hingga di beri ketabahan hati
    maaf saya mampir hanya untuk mengucapkan
    selamat idul fitri 1429H
    mohon maaf lahir dan batin

  9. saya pernah ngerasa jadi orang paling sial dan menderita sedunia…….

    dulu……

    oiya maaf lahir batin (meskipun belum kenal…)

  10. Tersenyumlah…🙂

    minal aidin … lam blogger :p

  11. herubudiarso

    Dihari yang fitri ini ternyata tidak semua orang tersenyum ya? seperti aq juga!

  12. semangattt!!!!!!!!

  13. Wah siap bikin novel ini yah…
    Tapi jangan bersediih…

    Salam kenal

  14. dia akan selalu ada dibenakmu dan menuntun mu…
    dia akan selalu hadir dalam sedihmu tuk bahagiakanmu…
    dia… karena dia ayah Qu…

    udah… cep2.. jangan sedih key…
    met iedul fitri… n’ salam kenaaal…🙂

  15. renxe

    jangan sedih terus ya ra…
    ayahmu pasti juga akan sedih kalo kamu terus menangis..
    banyak2 kirim doa buat beliau agar bahagia disana..

    masih banyak orang yg sayang kamu, jangan lupa untuk balas menyayangi mereka..

    minal aidzin walfaidzin…mohon maaf lahir dan batin

    tetep semangat ya…

  16. duka lambang cinta
    dan beri dia tempat seperlunya
    karena engkau juga harus berjuang
    untuk masa depan gemilangmu.
    (untuk mewujudkan apa yang pernah diharapkan ayahandamu).

  17. @Mr. Momod

    Iya thanks ya…
    mohon maaf lahir bathin juga…

    @enggink

    Aku akan terus bersyukur dan ikhlas, met idul fitri juga ya
    Thanks dah mampir…

    @geRrilyawan

    owh ya…
    Maaf lahir bathin juga…

    @fickry

    Aku dah tersenyum sekarang…
    sama-sama…

    @Dalila Sadida

    Yup….

    @Blogunik

    Novel apa?
    udah nggak sedih koq..

    salam kenal juga…

    @Si Dudul

    Tentu saja karena dia papaku…

    Thanks ya….
    met idul fitri juga, salam kenal juga…

    @renxe

    Iya kak…
    akan aku doakan setiap saat…, thanks ya kak…
    sama-sama….

    aku akan semangat, karena banyak yang sayang aku….

    [thanks pada semua yang sudah sayang ma aku]

    @sonyssk

    tentu saja pak…
    aku akan wujudkan semuanya…

  18. bayu200687

    ya, tetap tersenyum sayang…
    bukankah orang yang kamu cintai dan mencintaimu juga akan tersenyum jika engkau tersenyum?
    tak masalah apakah engkau melihatnya tersenyum atau tidak
    tak masalah apakah dia melihatmu tersenyum atau tidak
    engkau adalah sebutir benih…
    kelak akan tumbuh…menjulang bersama angin…ataupun melata bersama bumi…
    dan kesedihan tak merubah apapun…meski airmata adalah tanda abadi akan sebuah cinta…

    temanmu
    abu abdurrohman

  19. Thanks kak…
    Aku akan selalu tersenyum…
    Tapi air mataku akan tetap menggenang di pipiku karena sangat sulit untuk membendungnya jika ingat papa tentunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: