Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Badai Di Puncak Merbabu

Ini adalah kisah petualangan kami, waktu itu tahun 2007 saat aku sedang liburan sekolah naik ke kelas 3 SMA. Kebetulan saat itu kakak bersama dengan teman-temannya merencanakan pendakian ke gunung merbabu. Karena aku sudah merengek-rengek ingin ikut akhirnya kakak izinkan aku ikut dalam rombongannya. Jadilah aku yang paling kecil disitu.

Gunung Merbabu terletak di kabupaten Magelang Boyolali Jawa Tengah. Berasal dari kata ‘meru’ yang artinya ‘gunung’ dan ‘babu’ yang artinya ‘wanita’. Jadi gunung merbabu berarti gunung wanita. Merbabu memiliki ketinggian 3142 m dpl. Dan kami harus melewati 4 pos untuk sampai ke puncak.

Kami berangkat melalui jalur kopeng, biasanya para pendaki akan beristirahat di sini dan akan melakukan perjalanan pada malam hari agar sampai puncak menjelang matahari terbit. Tapi kami tidak, di basecamp kami cuma istirahat sebentar, di sini masih ada rumah-rumah penduduk.

Dari sini kami mulai melakukan perjalanan, kami mulai melangkah dan kami akan melihat gelap kehijauan beberapa ratus langkah ke depan. Kala itu matahari telah merangkak dari kaki langit, kami terus saja melangkah diantara embun-embun yang melekat di rerumputan. Walaupun beban di punggung kami terasa berat itu tak bisa menggoyahkan semangat kami untuk segera sampai ke puncak. Kami sempat berhadapan dengan gulungan putih memanjang yang memenuhi penglihatan kami, yah kabut tebal yang menyelubungi pandangan kami, begitu indah karena setelah kami dapat menembus kabut itu kami hanya akan melihat ruang hampa .

Cahaya mentari terasa semakin hangat mengangkat tirai putihnya, dan kami tertarik dengan tersingkapnya tirai kabut itu. Kami lihat tebing tertutup rumput segar. Pohon-pohon cemara berjajar seolah membentuk barisan. Ada burung-burung kecil yang bercicit berkejar-kejaran dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Udara yang kami hirup benar-benar terasa segar dan sejuk hingga menyusup kepori-pori dan terus masuk hingga ke darah kami. Ada juga pohon-pohon kecil bunga-bunga liar, putri malu bahkan aku sempat berhenti untuk sekedar menyentuh putri malu. Kadang aku ingin memetiknya, tapi aku ingat moto kami sebagai pecinta alam. ‘Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan membunuh sesuatu kecuali waktu’.

Kadang banyak pendaki yang tidak menyadari hal itu, membuang sampah sembarangan. Disini juga ada pantangan-pantangan yang tidak boleh kami langgar. Diantaranya jangan mengeluh, jangan berkata-kata kotor, jangan berbuat mesum, jangan melamun, jangan berak dan kencing di daerah keramat, jangan memakai pakaian yang berwarna merah dan hijau. Penduduk di wilayah ini mayoritas beragama budha, itu terlihat dari masih banyaknya orang yang bertapa di daerah yang dianggap keramat. Kami juga lihat ada pecahan-pecahan gerabah disini.

Kami terus saja melangkah, kadang kami harus melewati belokan jalan dengan medan yang sempit. Dingin sudah terasa menusuk tulang. Lelah dan capek sudah menghinggapi kami. Matahari terus saja bergeser, kami beristirahat sejenak sekedar untuk minum atau memakan bekal kami. Di tempat ini kami sudah banyak melewati jalur terbuka dan banyak semak-semak di sekitar kami. Langkah kami arahkan ke tempat desa terakhir yaitu ‘tekelan’, dari situ kami akan melanjutkan pendakian ke puncak. dan setelah senja kami sampai di tekelan. Kami putuskan untuk beristirahat sejenak, karena dari sini jalan akan semakin menanjak. Tiba-tiba saja ada dua anak kecil yang berwajah polos dan lucu, mereka saling berkejar-kejaran. Dia mendatangi kami. Saat itu kakak sedang berdiri, anak kecil itu menghampiri kakak, yang satu pegang tangan kiri kakak, yang satunya lagi pegang tangan kanan kakak. Dia berbicara dengan kakak dengan berbahasa jawa. [ Beginilah kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia ]

“kak, jangan naik ya…” ucapnya

“Lho kenapa?” tanya kakak

“Pokoknya jangan naik kak, ya kak…” ucapnya merayu.

“Tapi kami ingin naik…” kata kakak, terus saat itu kakak bilang ke temannya “ada yang bawa permen nggak?”

“kami tidak makan permen” ucap anak itu.

Kemudian mereka lepaskan pegangannya pada tangan kakak, mereka kembali berlari berkejar-kejaran sambil naik turun bukit cepat sekali tanpa merasa capek. Sesekali kami mendengar tertawa mereka.

Waktu sudah beranjak malam, pendakian tetap kami lanjutkan, kami tak hiraukan perkataan anak kecil itu. Kami melewatipunggungan sempit yang di apit jurang, orang-orang menyebutnya ‘devil bridge’ atau ‘jembatan setan’. Karena gelap kami menggunakan senter sebagai penerangan jalan. Diantara celah itu ada dua jalur yaitu jalur yang biasa dilalui penduduk dan jalur yang biasa dilalui para pendaki. Diantara dua jalur itulah kami melihat orang yang duduk bersila, tampak seperti sedang bertapa. Dia menggerak-gerakkan tangannya pada kami, seperti bahasa isyarat agar kami segera turun dan tidak melanjutkan pendakian lagi. Waktu itu kami tidak kepikiran untuk melihat wajahnya padahal kami bisa mengarahkan senter kami ke wajahnya agar kami bisa melihat wajahnya. Tapi entah mengapa kami tetap nekat terus mendaki.

Malam itu begitu dingin padahal sudah memakai jaket tebal, bahkan sangat dingin. Akhirnya sampai juga kami ke puncak antena. Tiba-tiba saja kami mendengar suara gemuruh angin yang sangat dahsyat. Kami terserang badai di puncak merbabu. Badai datang begitu saja. Kami sangat panik sekali, aku terus berpegangan dengan kakak. DIngin semakin menusu-nusuk tulang kami, tubuh kami menggigil, beku, bahkan kami sudah terkena hypothermia. Kamisudah kehilangan suhu tubuh kami. Benar-benar beku seperti es. Kami saling berpegangan tangan sambil terus merangakak di padang rumput belukar. Yang bisa kami lakukan saat itu hanya berdoa dan terus berdoa, kami jadi ingat ucapan anak kecil itu, kami juga ingat dengan pertapa itu. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Kami hanya bisa mohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah kami perbuat selama ini. Semua kejadian dalam hidup kami terbayang denagn jelas. Tampaknya kematian sudah terbayang di depan kami. Dan kami sudah pasrah jika memang harus mati. Air mataku sudah tak dapat aku bendung lagi, aku jadi ingat dengan mama, bagaimana kalau aku dan kakak mati, tentu mama akan hidup sendirian di dunia ini.

Akhirnya kami tidak menyerah begitu saja, walaupun tubuh kami sudah tak terasa lagi kami mencoba merangakak turun sambil terus berpegangan tangan. Sakit tubuh ini sudah tidak kami rasakan lagi karena kami memang sudah mati rasa. Perlahan kami terus merangkak turun, hingga mentari kembali menampakkan batang hidungnya dan badai sudah berlalu, kami baru tersadar kalau kami sudah ada yang menolong. Kami saling bertangisan. Ucap syukur tak lupa kami panjatkan, karena kami masih diberi nafas kehidupan.

Kami cerita tentang anak kecil dan orang yang bertapa itu. Ternyata anak kecil itu bukan manusia seperti kita , kata penduduk situ dia adalah penunggu merbabu, dan orang yang bertapa itu adalah orang yang bertapa puluhan tahun yang lalu, dan dia moksa di situ, jasadnya tidak ditemukan. Apabila dia menampakkan diri berarti dia ingin jasadnya disempurnakan.

Hikmah yang dapat kami petik adalah, kami harus turuti nasehat orang yang berada di sekitar kita apabila itu nasihat yang baik. Kami harus lebih berhati-hati. Kami harus selalu berbuat baik karena kematian itu bisa datang secara tiba-tiba. Jadi kalian semua yang ingin mendaki ke merbabu berhati-hatilah. Jangan sampai kalian langgar semua pantangannya.

39 Comments

  1. He..he..he…Alam memang penuh misteri, meski kadang kita tak pernah mempercayai.
    Pengalaman unik..

    http://akuyangmati.wordpress.com

  2. Wow another great story… bagus bagus bagus… lain kali ceritakan lagi yang lain ya… oh ya, mau tanya, mendaki gunung itu apakah ditempuh dalam satu jalan lurus dari kaki hingga kepuncak, atau ditempuh mengelilingi gunung itu seperti spiral? mengerti pertanyaanku?

    atau selalu lihat situasi? apa merbabu gunung yang curam?

  3. bayu200687

    bagus mbak. pendaki juga ya..? Salam Lestari!
    pernah ke Gunung Sindoro/Sumbing? dlu saya pernah kesana. ada sedikit yg aneh. ketika dipertengahan gunung (lupa, entah sindoro atau sumbing) ada suara gamelan dari arah bawah. padahal ketika mendaki, tak terdengar suara gamelan. kata temen2 sih emang gitu. tapi tetap aja penasaran. ada penjelasan logisnya ga ya?
    truz pengalaman pertama, kirain yg namanya pos itu ada bangunan semacam gubuk, ternyata….

  4. @Oson
    iya benar kak, alam memang penuh misteri

    @immoz
    mendaki ya di tempuh dengan cara mengelilingi gunung. Iya ngerti koq.
    Setiap gunung memiliki trek yg berbeda-beda.
    Merbabu termasuk gunung yg landai, tidak terlalu curam, ada medan yg berbukit-bukit.

    @bayu200687
    iya mas..
    Salam Rimba!
    Hmm, bukan hanya di sindoro dan sumbing yg terdengar suara gamelan, di merapi, merbabu, lawu juga ada, orang menyebutnya ‘pasar setan’. Tidak bisa dijelaskan secara logis.
    Dulu aku juga berpikir seperti itu…

  5. wah si mbak pendaki yah..

    saya jadi pengen daki gunung..
    blom pernah soalnya..

  6. Iya..
    Wah coba ja mas, asyik lho, pemandangannya sangat indah…

  7. renxe

    wahh mendaki gunung….
    pernah ke gunung ijen? indaaah banget..kawahnya kaya kolam. di sekitar rute pendakian juga dihiasi bunga edelweiss yang menghiasi bak permadani yg menutupi permukaan bebatuan… ^^

    hmmm…tp menegangkan juga mengalami badai di gunung… syukurlah bisa kembali dengan selamat….

  8. Belum pernah kak..
    Wow.., aku jadi ingin kesana…

    Iya bersyukur banget..

  9. ceritanya indah sekali…

  10. Arm

    hoo… Salam Rimba…!
    saya si baru pernah Slamet ama Sindoro🙂
    *jadi inget masa SMA😀 *
    moral of teh story : lihat kebijakan yg disampaikan, jangan SELALU melihat yg menyampaikan

  11. hedi

    Aku suka bgt mendaki gunung sampai kuliah, skg sdh nga pernah gunung semeru, ciremai, papandayan, di gunung ciremai terjebak ujan deras dan tersesat ada teman yang terkena Hypertenia, tp alhamdulilah selamat sampai ke pos sempat putus asa juga, tapi Allah masih memberikan jalan

  12. Suka mendaki juga ya?
    Selain ke Merbabu, pernah ke gunung apa lagi?
    Setiap gunung terutama di wilayah jawa memang memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Baik dari sisi fisik maupun non fisik.
    Pengalaman yang kamu alami memang banyak juga dialami oleh beberapa orang rekan saya. Syukur Alhamdulilah jika akhirnya selamat. Sewaktu di gunung memang semuanya sama sekali tidak bisa ditebak sih. Intinya jangan sekali2 meremehkan. Ini saya alami waktu di Gn. Pulo Sari banten, berfikir remeh karena memang gnung ini tidak terlalu tinggi, tapi justru pengalaman hebat saya dapet dari sini.
    Satu hal yang pasti, kita bisa memetik hikmah dari kejadian. Sehingga dalam pendakian selanjutnya kita lebih hati-hati lagi.
    [maaf kepanjangan nih … ^_^]

  13. Kenapa saya belum pernah menulis tentang pendakian saya ya?? he he ….

  14. Yang pasti harus sensitive terhadap alam … alam memang menyejukan tapi dia bisa marah dan mengamuk, seperti manusia juga kan? inilah ciptaan ALLAH ..

  15. Wah, pengalamannya kayaknya seru banget nih.
    Makasih udah berbagi ya?

  16. Be carefull neng …. lain ali aih 2 yah , alam itu tak terduga, terkadang manis, terkadang juga nakal , yang penting adalah bagaimana agar kita bisa mengerti isyarat itu ….

    eh, rupanya masih sebaya saya th oo…. kul dimana mbak ?

    boleh dipanggil mbak kan radesya ?

  17. bijak dalam menerima nasihat

    wah indahnya🙂

  18. @awan sundiawan

    Thanks ya pak…

    @arm

    “Salam Rimba… !”

    Cobalah ke Merbabu…

    @hedi

    wah… bapak pendaki juga ya?

    @BanNyu

    Iya kak….

    aku tak akan meremehkannya lagi…

    Memang kejadian apa?

    Iya.. kapan-kapan cerita ya.., kita bisa berbagi pengalaman..

    @Rindu

    Iya mbak…. benar sekali..

    @Edi Psw

    makasih juga telah berkunjung…

    @Muda Bentara

    Iya… aku akan selalu hati-hati…

    kamu maba juga?

    Boleh saja koq, terserah mau panggil apa…
    aku juga udah 16 th lho…
    aku panggil kamu adik ya?

    @achoey sang khilaf

    thanks ya kak…

  19. enaknya udah pernah naik gunung
    saya belum je…hehehe
    mana boleh yak😳

  20. Mbk wenny coba ja, mengasyikkan lho…
    Sebenarnya aku itu naek gunung tidak izin mama, tapi ada kakak, so kalau ada kakak ada yg melindungi gitu..

  21. Duuh..sassie jadi pengen..kapan ya bisa kayak kamu??
    Sie suka dg suasana pegunungan ..salam kenal kembali.. Thanks atas kunjungannya

  22. Kapan-kapan mbak sie bisa coba, indah sekali, mbak akan lihat hamparan bunga edelweiss yang sangat indah…

  23. Keren..ada anak gunung…hehehe

  24. cantigi

    remind me something..
    selalu ada cantigi sederhana yg menjaga lincahnya edelweis kecil yg selalu bercumbu dg hamparan halimun diantara tipisnya udara puncak2 gunung itu.. ^_^
    saya selalu kangen bromo-tengger-semeru..
    nice article.. ^_^

  25. aq mendaki gunung cuman sekali….hiks….hiks….
    malu nieh…..hehehhe
    kunjung balik ye….

  26. @indra1082
    anak rimba aja… Hehehe…

    @cantigi
    ah iya…, karena itulah aku selalu rindukannya, oh iya kakak pendaki juga ya? Pantas ja namanya cantigi. Aku udah pernah ke bromo tapi blum pernah ke tengger dan semeru, kakak pernah ke arjuna?

    @ma2nn-smile
    kapan yang kedua kali?

  27. wahh… jadi nostalgia ni, 🙂 kpn lagi ya bisa naik gunung

  28. Owh…, rupanya kakak juga suka naek gunung…

  29. Kayaknya seru banget pengalamannya, jadi pengen nyobain!!

  30. rasanya cuma aku yang gak suka naek gunung…

  31. noinitial

    hmm, jadi pengen ke sana.. do’ain ya..
    Btw, thax buat kunjungannya..
    Salam kenal

  32. @andy
    iya, seru lho. Cobain aja kak…

    @immoz
    nggak suka naek gunung? Coz kamu belum pernah lihat hamparan edelweiss, dan cantigi.., di sana sangat indah lho…

    @noinitial
    iya…, aku doain dech…
    Thanks juga dah mampir…

  33. Siapapun orangnya, kalau nasihatnya baik, kenapa tidak.

  34. Iya mbak, mahasiswa baru neh …

  35. @Edy Psw
    iya betul sekali..

    @Muda Bentara
    iya nih….

  36. wahyukresna

    baru tahu lho kalo merbabu artinya gunung wanita… masa sih???

  37. Iya kok, udah pernah ke merbabu?

Trackbacks

  1. Redesya’s Weblog
  2. Misteri Gunung Lawu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: