Radesya

"Ingin jadi mentari berharap bisa menerangi"

Lelaki Tua Itu

Terik mentari kian menyengat, tubuh renta itu terus berjalan. Tak hiraukan beribu peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya yang renta. Tak hiraukan kerikil tajam yang mengoyak kakinya yang telanjang. Tak hiraukan lapar dahaga yang kian menyiksanya. Kulitnya yang menghitam terkena sengatan mentari yang kian menggila. Lelaki tua itu terus saja berjalan, sesekali dia membungkuk memungut sesuatu dan kemudian memasukkan ke dalam karung yang ada di gendongannya. Lelaki tua itu berhenti, tampaknya dia sangat letih, dia duduk di trotoar jalan. Lalu lalang orang berjalan di depannya, kehidupan kota mulai berdenyut. Wajahnya yang kusut dan kosong, pakaiannya compang-camping, kerutan tampat jelas di bawah kelopak matanya.

Lelaki tua itu bangkit dari duduknya, dia memungut sesuatu, ya sebatang rokok, kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula, dia meraba-raba saku bajunya. Dia mengambil korek api dan menyalakan rokok yang baru di pungutnya. Tangannya bergetar dan rokoknya terjatuh, dia pungut kembali dan menghisapnya dalam-dalam, sangat menikmati sekali. Diputarnya rokok yang tinggal separo itu, ah.. rokok itu terjatuh lagi, dan dia kembali memungutnya dan tangannya memegangi perutnya. Lelaki tua itu tampak sekali kalau sedang menahan rasa sakit. Tubuhnya tampak menggigil, bergetar. Tak ada orang yang menghiraukannya. Ada anak-anak kecil tampak lewat di depannya. Anak-anak itu malah mengejeknya “orang gila, orang gila”

Sungguh tidak sopan! kali ini rokoknya kembali terjatuh, dan kali ini sudah tak terselamatkan lagi, dia kelihatan sangat kecewa. Wajah rentanya nampak memelas. Aku yang dari tadi memperhatikannya tak tega melihatnya. Tubuhnya terus saja gemetaran.

Aku pesan sebungkus nasi dan minuman hangat, aku lari menghampirinya. Aku sodorkan sebungkus nasi itu padanya. Tanpa ada kata-kata lelaki tua itu langsung meraih sebungkus nasi yang aku sodorkan. Dia makan begitu lahap, ternyata benar dia sangat kelaparan. Dalam waktu sekejap nasi itu sudah habis dilahapnya. Setelah selesai dia berterima kasih padaku. Dia bercerita kalau sudah dua hari belum makan. Dia bercerita banyak tentang dirinya padaku. Ternyata dia juga tidak punya tempat tinggal. Lelaki tua itu mengais sampah di jalan hanya demi sesuap nasi. Mengumpulkan benda apa saja demi uang yang besarnya hanya ribuan.

Aku jadi ingat uang ratusan juta yang untuk menyuap jaksa. Bagaiamana kalau uang itu di gunakan untuk menolong mereka. Sungguh tidak adil. Masih banyak di negri ini yang nasibnya sama dengan lelaki tua itu.

Lelaki tua itu bercerita padaku tentang zaman dulu, zaman saat masih perang. Bahkan dia juga ikut berperang. Oh rupanya lelaki tua ini seorang pahlawan juga. Tapi tak ada orang yang tau, bahkan banyak yang menganggapnya gila. Dia begitu bersemangat bercerita . Cerita tentang betapa gagahnya dia saat melawan jepang.

Aku juga bersemangat mendengar ceritanya, rupanya aku telah menolong seorang pahlawan yang tak pernah mau disebut sebagai pahlawan. Hari ini begitu indah bagiku, karena banyak pelajaran yang aku dapat dari lelaki tua itu. Tentang kesetiakawanan, persahabatan, harga diri. Kebaikan yang tulus pasti akan selalu berbuah manis.

45 Comments

  1. Artikel yang sangat menyentuh sanubari….:(
    bgitulah kenyataan hidup, slalu ada korban slalu juga ada pengorbanan. Engkau yang sudah tua istirahatlah diluar banyak angin….engkau yang tak pernah puas teruskanlah menari diatas penderitaan sesamamu. Pengadilan akhirat sudah menunggumu karena tak sedikitpun keserakahanmu terlewatkan olehNYA.

  2. Tentunya lelaki tua itu sangat bangga, karena dimasa sekarang ini , dimana keadilan dan kasih sayang itu amat jarang di temui, masih ada seorang wanita seperti itu, persisnya sepertimu , wanita yang masih mau berbagi dan masih mau mengerti dan memahami , karena para pahlawan yang sebenarnya itu tak pernah menuntut balas budi, tak pernah menuntut peti-peti yang berisikan uang , ataupun uang pensiuan yang jumlahnya ratusan ribu itu , mereka cuma meminta sedkit saja, cuma meminta untuk dihargai , dan dimengerti, tak perlu uang-uang penipu itu, tak perlu bualan-bualan para pejabat pemerintah yang berhati busuk itu , yang mereka inginkan cuma sebuah keinginan, keinginan untuk dipahami, keinginan untuk didengar, didengar cerita masa lalunya, masa dimana ia masih gagah, masa dimana puluhan gadis di desanya bermimpi tuk menjadi istrinya , cuma itu , ia cuma ingin di dengar, hanya itu, dan terima kasih untuk mu , wanita itu, yang mau mendengarkannya .
    saleum.

  3. mikekono

    sangat jarang wanita muda
    peduli dengan lelaki tua
    sungguh menakjubkan

  4. siapa itu???

  5. @joe Sitohang
    memang seharusnya dah istirahat, tapi sayang tak bisa, karena harus terus hidup. Dulu berjuang melawan penjajah, sekarang harus berjuang demi hidup..

    @mudabentara
    iya, padahal hanya didengar ceritanya saja dia sudah sangat senang. Tapi aku
    tak pantas dapat ucapan terima kasih, karena cuma itu yang yang bisa aku lakukan..

    @Mikekono
    tentu saja, kita yang muda harus peduli sama yang tua..

    @zulfikar chaniago
    kalau yg dimagsud ‘itu’ lelaki tua, beliau adalah seorang kakek sudah tua, tapi aku tak tau namanya, aku tak sempat tanya namanya, karena waktu itu asik bercerita…

  6. Pemandangan yang jarang terlihat saat ini,
    karena orang-orang lebih tertarik ngomong dan nulis daripada bertindak melakukan hal yang nyata

  7. Mulai sekarang.., bertindaklah.., berbagi dan melakukan kebaikan itu indah dan menyenangkan lho…

  8. *i’m so moved…*

    tuhhhh kalian setelah baca nih artikel, selamat menunaikan ibadah puasa. puasa bukan cuma gak makan gak minum kan, tapi juga melakukan apa yang redesya lakukan…

    Rara, the planet proud of you ^^ damn, i can’t believe there such a person like you!!!

    *lari-lari keliling lapangan*

  9. siapa menanam kebaikan, panennya juga kebaikan…🙂

    met ber-Ramadhan

  10. selamat menempuh ramadhan,
    jabat erat!

  11. wah.. mulia sekali mbak redesya[h] ini..

  12. @immoz
    hahaha, kamu juga harus berbuat baik ya..
    Ah.. itu terlalu berlebihan…
    *udah larinya ntar capek lho*

    @akaldanhati
    yap…! Aku setuju.
    Met ramadhan juga ya.. Mohon maaf kalau ada kesalahan..

    @ahsani taqwiem
    Met ramadhan…
    Mohon maaf jika ada salah…
    *jabat erat*

    @ulan
    aduh mbak.., aku belum pantas dikatakan mulia…

  13. speechless…..

  14. Speechless mode on…

  15. Terima kasih ALLAH, sudah menghadirkan pak tua agar sahabat saya bisa berbagi🙂

  16. wew,,keren ceritanya…
    lam knal, mbak🙂

  17. @Rindu
    iya mbak, jadi senang bisa berbagi..

    @wennyaulia
    wah mbak wenny…, salam kenal juga mbak.. Thanks ya dah mampir..

  18. bas

    Salam kenal ya mbak redesya..Woww..Aku nggak salah mampir blog rupanya…aku sudah membaca kisah seorang (super hero) hehehe…Mbak telah menyeamatkan pejuang….aku terharu…aku juga setuju kalau para koruptor dihukum lebih berat dari sekedar pencuri jemuran atau sendal jepit…biar nggak ada lagi koruptor dan dana yang dikorupsi bisa untuk kesejahteraan veteran perang seutuhnya….sungguh inspired!!!

  19. Salam kenal juga…Thanks dah mampir..
    Ah..,aku bukan super hero koq, terlalu berlebihan… Kalau koruptor di hukum berat aku setuju itu..

  20. renxe

    wahh…sungguh mulia sekali perbuatanmu… ^^ *tak henti2nya terkagum2*

    kalau saja negeri ini dipenuhi orang2 seperti mbak rara ini…mungkin perubahan besar akan terjadi.

    anyway met menunaikan ibadah puasa..semoga segala amal ibadah diterima di sisiNya…

  21. Aku cuma sedikit berbagi koq.., semua orang pasti bisa melakukannya.., btw thanks ya.., kalau ada salah mohon dimaafkan ya..

  22. Cerita yg bagus

    Sahabat,

    Met nikmatin indahnya bulan suci
    Mohon maaf lahir & bathin🙂

  23. Thanks…
    Sahabat…
    Bila ramadhan laksana lentera, aku ingin membuka hadirnya dengan maaf untuk menebus jendela jiwa kembali ke fitrah, mohon maaf juga ya..

  24. mumpung ramadhan

    KEPADA PARA BLOGGER YANG SEDANG BERPUASA ..SEKALIAN …..YANG MAMPIR KESINI..

    SAYA MINTA TOLONG DI BANTU,….

    COBA KE

    http://galeter.wordpress.com

  25. My

    saya ingin berbagi dengan sesama nech…🙂

  26. Wah bagus mbak.., aku dukung dech..

  27. salam kenal
    saya singgah sebentar
    mencari apa yang belum saya temui
    indahnya berbagi
    selamat menunaikan ibadah puasa ya mbak…

  28. Salam kenal juga..
    Apa dah ketemu yg dicari?

    Met menjalankan ibadah puasa juga..

  29. Wah, baru sempat baca.
    [sotoy dulu ah…:mrgreen: ]

    Alur ceritanya yang mantab Mbak…

    Ringan dibaca tapi tetep memunculkan karakter tokoh yang kuat.😀

  30. Thanks ya dah mau baca, aku belum pandai menulis…

  31. Cerita yang bagus. Semoga tulisan ini banyak dibaca orang.
    hemmm .. udah cantik fisik cantik hati lagi!
    [halah !]

  32. ozzymalta

    Weh,weh….kasihan….

  33. mastal

    walaupun sudah tua masih punya semangat … salut dech

  34. @BanNyu
    Thanks, Doakan agar aku tetap jadi orang yang cantik hatinya…

    @ozzymalta
    Iya kasihan, mo bantuin kan?

    @mastal
    Semangat buat terus hidup…
    Kamu juga harus semangat ya!

  35. hedi

    Betapa mulianya hatimu, jika semua orang seperti mu tdk ada org yang kelaparan

  36. Itu terlalu berlebihan pak…
    Semua orang pasti akan melakukan hal yg sama koq..

  37. Salam !

    Saya dari Malaysia, hanya mau tumpang baca blog ini caranya apa!

    Terima Kasih

  38. Salam juga..

    Wah dari malaysia?

    Silahkan saja…, seringlah baca coretan tak berarti ini…

  39. bayu200687

    mba rara, ijin ngopy tulisan ini ya…sama tulisan ‘pahlawan tak dikenal’…
    buat forum..
    jazakillah khoir

  40. Silahkan saja kak…

    Semoga bisa bermanfaat…

  41. sangat menyentuh perasaan dik…
    Btw, adik sekarang kuliah or kerja di mana?

  42. Thx ya…
    Masih kuliah kak…

  43. ini juga… aku komen lagi disini ya…
    nah lihat, meskipun dia pahlawan, meskipun dia gagah berjuang, tapi apa hasilnya. Buah kemerdekaan itu tidak pernah sampai kesemua warga, termasuk ‘pahlawan’nya sendiri.

    untuk apa ada pahlawan dan gembar gembor perjuangan yang dilakukan kalo toh hanya-sedikit-lebih-baik. Sebel!

Trackbacks

  1. Pahlawan Tak Dikenal « Redesya’s Weblog
  2. Pahlawan Tak Dikenal | Radesya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: