Terik mentari kian menyengat, tubuh renta itu terus berjalan. Tak hiraukan beribu peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya yang renta. Tak hiraukan kerikil tajam yang mengoyak kakinya yang telanjang. Tak hiraukan lapar dahaga yang kian menyiksanya. Kulitnya yang menghitam terkena sengatan mentari yang kian menggila. Lelaki tua itu terus saja berjalan, sesekali dia membungkuk memungut sesuatu dan kemudian memasukkan ke dalam karung yang ada di gendongannya. Lelaki tua itu berhenti, tampaknya dia sangat letih, dia duduk di trotoar jalan. Lalu lalang orang berjalan di depannya, kehidupan kota mulai berdenyut. Wajahnya yang kusut dan kosong, pakaiannya compang-camping, kerutan tampat jelas di bawah kelopak matanya.
Lelaki tua itu bangkit dari duduknya, dia memungut sesuatu, ya sebatang rokok, kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula, dia meraba-raba saku bajunya. Dia mengambil korek api dan menyalakan rokok yang baru di pungutnya. Tangannya bergetar dan rokoknya terjatuh, dia pungut kembali dan menghisapnya dalam-dalam, sangat menikmati sekali. Diputarnya rokok yang tinggal separo itu, ah.. rokok itu terjatuh lagi, dan dia kembali memungutnya dan tangannya memegangi perutnya. Lelaki tua itu tampak sekali kalau sedang menahan rasa sakit. Tubuhnya tampak menggigil, bergetar. Tak ada orang yang menghiraukannya. Ada anak-anak kecil tampak lewat di depannya. Anak-anak itu malah mengejeknya “orang gila, orang gila”
Sungguh tidak sopan! kali ini rokoknya kembali terjatuh, dan kali ini sudah tak terselamatkan lagi, dia kelihatan sangat kecewa. Wajah rentanya nampak memelas. Aku yang dari tadi memperhatikannya tak tega melihatnya. Tubuhnya terus saja gemetaran.
Aku pesan sebungkus nasi dan minuman hangat, aku lari menghampirinya. Aku sodorkan sebungkus nasi itu padanya. Tanpa ada kata-kata lelaki tua itu langsung meraih sebungkus nasi yang aku sodorkan. Dia makan begitu lahap, ternyata benar dia sangat kelaparan. Dalam waktu sekejap nasi itu sudah habis dilahapnya. Setelah selesai dia berterima kasih padaku. Dia bercerita kalau sudah dua hari belum makan. Dia bercerita banyak tentang dirinya padaku. Ternyata dia juga tidak punya tempat tinggal. Lelaki tua itu mengais sampah di jalan hanya demi sesuap nasi. Mengumpulkan benda apa saja demi uang yang besarnya hanya ribuan.
Aku jadi ingat uang ratusan juta yang untuk menyuap jaksa. Bagaiamana kalau uang itu di gunakan untuk menolong mereka. Sungguh tidak adil. Masih banyak di negri ini yang nasibnya sama dengan lelaki tua itu.
Lelaki tua itu bercerita padaku tentang zaman dulu, zaman saat masih perang. Bahkan dia juga ikut berperang. Oh rupanya lelaki tua ini seorang pahlawan juga. Tapi tak ada orang yang tau, bahkan banyak yang menganggapnya gila. Dia begitu bersemangat bercerita . Cerita tentang betapa gagahnya dia saat melawan jepang.
Aku juga bersemangat mendengar ceritanya, rupanya aku telah menolong seorang pahlawan yang tak pernah mau disebut sebagai pahlawan. Hari ini begitu indah bagiku, karena banyak pelajaran yang aku dapat dari lelaki tua itu. Tentang kesetiakawanan, persahabatan, harga diri. Kebaikan yang tulus pasti akan selalu berbuah manis.

Posted by joe Sitohang on August 30, 2008 at 5:44 am
Artikel yang sangat menyentuh sanubari….:(
bgitulah kenyataan hidup, slalu ada korban slalu juga ada pengorbanan. Engkau yang sudah tua istirahatlah diluar banyak angin….engkau yang tak pernah puas teruskanlah menari diatas penderitaan sesamamu. Pengadilan akhirat sudah menunggumu karena tak sedikitpun keserakahanmu terlewatkan olehNYA.
Posted by Mudabentara on August 30, 2008 at 5:49 am
Tentunya lelaki tua itu sangat bangga, karena dimasa sekarang ini , dimana keadilan dan kasih sayang itu amat jarang di temui, masih ada seorang wanita seperti itu, persisnya sepertimu , wanita yang masih mau berbagi dan masih mau mengerti dan memahami , karena para pahlawan yang sebenarnya itu tak pernah menuntut balas budi, tak pernah menuntut peti-peti yang berisikan uang , ataupun uang pensiuan yang jumlahnya ratusan ribu itu , mereka cuma meminta sedkit saja, cuma meminta untuk dihargai , dan dimengerti, tak perlu uang-uang penipu itu, tak perlu bualan-bualan para pejabat pemerintah yang berhati busuk itu , yang mereka inginkan cuma sebuah keinginan, keinginan untuk dipahami, keinginan untuk didengar, didengar cerita masa lalunya, masa dimana ia masih gagah, masa dimana puluhan gadis di desanya bermimpi tuk menjadi istrinya , cuma itu , ia cuma ingin di dengar, hanya itu, dan terima kasih untuk mu , wanita itu, yang mau mendengarkannya .
saleum.
Posted by mikekono on August 30, 2008 at 11:02 am
sangat jarang wanita muda
peduli dengan lelaki tua
sungguh menakjubkan
Posted by zulfikar chaniago on August 30, 2008 at 1:38 pm
siapa itu???
Posted by redesya on August 31, 2008 at 3:14 am
@joe Sitohang
memang seharusnya dah istirahat, tapi sayang tak bisa, karena harus terus hidup. Dulu berjuang melawan penjajah, sekarang harus berjuang demi hidup..
@mudabentara
iya, padahal hanya didengar ceritanya saja dia sudah sangat senang. Tapi aku
tak pantas dapat ucapan terima kasih, karena cuma itu yang yang bisa aku lakukan..
@Mikekono
tentu saja, kita yang muda harus peduli sama yang tua..
@zulfikar chaniago
kalau yg dimagsud ‘itu’ lelaki tua, beliau adalah seorang kakek sudah tua, tapi aku tak tau namanya, aku tak sempat tanya namanya, karena waktu itu asik bercerita…
Posted by Adam on August 31, 2008 at 3:53 pm
Pemandangan yang jarang terlihat saat ini,
karena orang-orang lebih tertarik ngomong dan nulis daripada bertindak melakukan hal yang nyata
Posted by redesya on August 31, 2008 at 8:44 pm
Mulai sekarang.., bertindaklah.., berbagi dan melakukan kebaikan itu indah dan menyenangkan lho…
Posted by immoz on August 31, 2008 at 11:40 pm
*i’m so moved…*
tuhhhh kalian setelah baca nih artikel, selamat menunaikan ibadah puasa. puasa bukan cuma gak makan gak minum kan, tapi juga melakukan apa yang redesya lakukan…
Rara, the planet proud of you ^^ damn, i can’t believe there such a person like you!!!
*lari-lari keliling lapangan*
Posted by akaldanhati on September 1, 2008 at 4:04 am
siapa menanam kebaikan, panennya juga kebaikan…
met ber-Ramadhan
Posted by ahsani taqwiem on September 1, 2008 at 4:50 am
selamat menempuh ramadhan,
jabat erat!
Posted by ulan on September 1, 2008 at 5:07 am
wah.. mulia sekali mbak redesya[h] ini..
Posted by redesya on September 1, 2008 at 6:10 am
@immoz
hahaha, kamu juga harus berbuat baik ya..
Ah.. itu terlalu berlebihan…
*udah larinya ntar capek lho*
@akaldanhati
yap…! Aku setuju.
Met ramadhan juga ya.. Mohon maaf kalau ada kesalahan..
@ahsani taqwiem
Met ramadhan…
Mohon maaf jika ada salah…
*jabat erat*
@ulan
aduh mbak.., aku belum pantas dikatakan mulia…
Posted by dhie on September 1, 2008 at 6:34 am
speechless…..
Posted by redesya on September 1, 2008 at 7:15 am
Speechless mode on…
Posted by Rindu on September 1, 2008 at 7:23 am
Terima kasih ALLAH, sudah menghadirkan pak tua agar sahabat saya bisa berbagi
Posted by wennyaulia on September 1, 2008 at 9:53 am
wew,,keren ceritanya…
lam knal, mbak
Posted by redesya on September 1, 2008 at 11:18 am
@Rindu
iya mbak, jadi senang bisa berbagi..
@wennyaulia
wah mbak wenny…, salam kenal juga mbak.. Thanks ya dah mampir..
Posted by bas on September 1, 2008 at 12:13 pm
Salam kenal ya mbak redesya..Woww..Aku nggak salah mampir blog rupanya…aku sudah membaca kisah seorang (super hero) hehehe…Mbak telah menyeamatkan pejuang….aku terharu…aku juga setuju kalau para koruptor dihukum lebih berat dari sekedar pencuri jemuran atau sendal jepit…biar nggak ada lagi koruptor dan dana yang dikorupsi bisa untuk kesejahteraan veteran perang seutuhnya….sungguh inspired!!!
Posted by redesya on September 1, 2008 at 1:48 pm
Salam kenal juga…Thanks dah mampir..
Ah..,aku bukan super hero koq, terlalu berlebihan… Kalau koruptor di hukum berat aku setuju itu..
Posted by renxe on September 1, 2008 at 2:58 pm
wahh…sungguh mulia sekali perbuatanmu… ^^ *tak henti2nya terkagum2*
kalau saja negeri ini dipenuhi orang2 seperti mbak rara ini…mungkin perubahan besar akan terjadi.
anyway met menunaikan ibadah puasa..semoga segala amal ibadah diterima di sisiNya…
Posted by redesya on September 1, 2008 at 9:14 pm
Aku cuma sedikit berbagi koq.., semua orang pasti bisa melakukannya.., btw thanks ya.., kalau ada salah mohon dimaafkan ya..
Posted by achoey sang khilaf on September 2, 2008 at 9:06 am
Cerita yg bagus
Sahabat,
Met nikmatin indahnya bulan suci
Mohon maaf lahir & bathin
Posted by redesya on September 2, 2008 at 10:25 am
Thanks…
Sahabat…
Bila ramadhan laksana lentera, aku ingin membuka hadirnya dengan maaf untuk menebus jendela jiwa kembali ke fitrah, mohon maaf juga ya..
Posted by galeter on September 3, 2008 at 4:59 am
mumpung ramadhan
KEPADA PARA BLOGGER YANG SEDANG BERPUASA ..SEKALIAN …..YANG MAMPIR KESINI..
SAYA MINTA TOLONG DI BANTU,….
COBA KE
http://galeter.wordpress.com
Posted by My on September 3, 2008 at 5:34 am
saya ingin berbagi dengan sesama nech…
Posted by redesya on September 3, 2008 at 8:00 am
Wah bagus mbak.., aku dukung dech..
Posted by timur matahari on September 3, 2008 at 10:28 pm
salam kenal
saya singgah sebentar
mencari apa yang belum saya temui
indahnya berbagi
selamat menunaikan ibadah puasa ya mbak…
Posted by redesya on September 4, 2008 at 2:51 am
Salam kenal juga..
Apa dah ketemu yg dicari?
Met menjalankan ibadah puasa juga..
Posted by agungfirmansyah on September 4, 2008 at 2:44 pm
Wah, baru sempat baca.
]
[sotoy dulu ah...
Alur ceritanya yang mantab Mbak…
Ringan dibaca tapi tetep memunculkan karakter tokoh yang kuat.
Posted by redesya on September 4, 2008 at 10:52 pm
Thanks ya dah mau baca, aku belum pandai menulis…
Posted by BanNyu on September 5, 2008 at 12:37 am
Cerita yang bagus. Semoga tulisan ini banyak dibaca orang.
hemmm .. udah cantik fisik cantik hati lagi!
[halah !]
Posted by ozzymalta on September 5, 2008 at 4:58 am
Weh,weh….kasihan….
Posted by mastal on September 5, 2008 at 7:48 am
walaupun sudah tua masih punya semangat … salut dech
Posted by redesya on September 5, 2008 at 12:56 pm
@BanNyu
Thanks, Doakan agar aku tetap jadi orang yang cantik hatinya…
@ozzymalta
Iya kasihan, mo bantuin kan?
@mastal
Semangat buat terus hidup…
Kamu juga harus semangat ya!
Posted by hedi on September 9, 2008 at 12:46 am
Betapa mulianya hatimu, jika semua orang seperti mu tdk ada org yang kelaparan
Posted by redesya on September 9, 2008 at 12:41 pm
Itu terlalu berlebihan pak…
Semua orang pasti akan melakukan hal yg sama koq..
Posted by Pak Karamu on October 16, 2008 at 1:29 pm
Salam !
Saya dari Malaysia, hanya mau tumpang baca blog ini caranya apa!
Terima Kasih
Posted by redesya on October 17, 2008 at 10:37 am
Salam juga..
Wah dari malaysia?
Silahkan saja…, seringlah baca coretan tak berarti ini…
Posted by Pahlawan Tak Dikenal « Redesya’s Weblog on November 10, 2008 at 4:25 am
[...] Tak Dikenal Di hari pahlawan ini aku akan kisahkan kembali tentang Lelaki Tua Itu, yang gurat keriput nampak lekat di sekujur tubuhnya. Lelaki yang aku temui di pinggir trotoar [...]
Posted by bayu200687 on November 10, 2008 at 4:32 am
mba rara, ijin ngopy tulisan ini ya…sama tulisan ‘pahlawan tak dikenal’…
buat forum..
jazakillah khoir
Posted by redesya on November 10, 2008 at 5:47 am
Silahkan saja kak…
Semoga bisa bermanfaat…
Posted by rismaka on November 10, 2008 at 6:04 pm
sangat menyentuh perasaan dik…
Btw, adik sekarang kuliah or kerja di mana?
Posted by redesya on November 10, 2008 at 10:42 pm
Thx ya…
Masih kuliah kak…
Posted by YUI Loyalist on November 13, 2008 at 9:51 pm
ini juga… aku komen lagi disini ya…
nah lihat, meskipun dia pahlawan, meskipun dia gagah berjuang, tapi apa hasilnya. Buah kemerdekaan itu tidak pernah sampai kesemua warga, termasuk ‘pahlawan’nya sendiri.
untuk apa ada pahlawan dan gembar gembor perjuangan yang dilakukan kalo toh hanya-sedikit-lebih-baik. Sebel!